RSS

Cave Adventure Expedition #GunungGede 3-5 Mei 2013 #Pendakian #1

Sabtu, 04 Mei 2013

Bersiap mendaki Gunung Gede, 2.958 MDPL!!
Pagi itu, saya terbangun dari tidur. Sekejap melihat jam di tangan, "Ah sudah pukul 04.00 lebih", batin saya. Sambil mengusap-usap mata menggenapkan nyawa yang masih melayang entah kemana dan melihat sekeliling ikhwan akhwat yag masih terlelap dalam tidur. 

"Eh gak jadi qiyamullail nih?", celetuk saya ke salah satu teman akhwat.  Namun, tidak ada jawaban. Mungkin yang lain juga tengah mengumpulkan sebagian nyawanya, antara setegah sadar :D

Saat itu, bunyi alarm HP tampak berisik bersaut-sautan. Yang satu berhenti berbunyi, yang lain berbunyi lagi dengan irama yang kadang sontak membuat saya kaget, tapi tapi tapi ikhwan-ikhwan yang punya HP malah tidak terbangun padahal alarm nya selalu berbunyi. Ya ampunnnn!! demi tu haaannnnn!!! ini petaka!!
Akhirnya, pada pukul 05.00, semua formasi lengkap sudah terbangun dari lelapnya tidur. Adzan shubuh berkumandang. Satu persatu kami mulai menuju kamar maandi untuk membasuh tiap sendi tubuh kami, berwudhu. Terasa segar pagi itu. Waktunya menunaikan kewajiban, berjama'ah dalam lurusnya barisan.




Cave Adventure Expedition #GunungGede 3-5 Mei 2013 #Keberangkatan

hari itu, jumat, 03 Mei 2013.

Packingpun saya kerjakan di pagi-pagi buta, saat mentari belum menampakkan cahayanya, karena ingin mengejar waktu briefing di wamy pukul 09.00 bersama tim. Jam di kamar tengah menunjukkan jarum pendek ke angka sembilan, tetapi saya belum selesai packing barang. Huahhhhh (jedotin kepala ke kasur) 
Di sela-sela packing barang, saya ambil HP jadul saya dan segera saya ketak-ketik di grup whatsapp Cave Adventure hanya sekadar izin telat. :D

Pagi itu pukul 10.00, packing selesai. Sayapun bergegas ke ATM mengambil uang, karena persediaan uang di dompet sangat tiris. Hehe. Selesai mengambil uang, saya menyempatkan membeli roti untuk persiapan logistik selama nanjak. Hmm, semua tertunaikan. Sesampainya di rumah, saya siap untuk berangkat. Membuka gerbang, menggendong beban carrier 40L , dan menenteng logistik di dalam bungkusan plastik. Pas di depan pintu, saya baru ingat kalau saya belum makan! Begini nih kalau sedang banyak pikiran! :D
 Akhirnya..saya sempatkan makan dulu sejenak untuk mengisi perut yang kosong sedari semalam. Yippi..berangkatlah menuju wamy pukul 11.15 siang.

Sesampainya di sana, masih sepi. Hanya ada saya, Nesya, ka Sumi, Lina. Andra sedang mencetak spanduk Cave Adventure di tempat lain, sedangkan Ka Amin berbeda rombongan, beliau berangkat lebih dulu menuju Gunung Gede untuk mengurus registrasi para pendaki, yang lainnya entahlah. masih bergelut dengan kesibukan masing-masing mungkin. Okee hari semakin siang, matahari mulai meninggi dan terik, tetapi formasi belum lengkap, alhasil saya dan Alin mencari sesuap nasi sebagai makan siang kami di luar Wamy. Hmm, lahapnya makan siang kala itu, subhanallah. :D

Hari sudah semakin sore, tetapi kami masih menunggu anak-anak yang lain, Andra! huhhhh tuh anak janjinya jam 09.00, sampai sore ditunggu tidak kunjung datang. Beberapa jam kemudian, Andrapun datang, alhamdulillaah. Beliau membawa spanduk yang akan kita jadikan dokumentasi di kala kami berada di puncak Gede nanti. O-ow tak lama kemudian Andra pun berbincang kalau ka Aji ternyata jadi ikut bersama temannya dan beliau sedang di jalan menuju wamy. hmmm. Rasanya bosan menunggu.:(

Hari semakin gelap, mentari sudah mulai tenggelam menandakan bahwa sore kala itu akan segera berganti malam. Sekitas pukul 17.00, ka Aji dan antek-anteknya datang. (baca: teman-temannya), dua orang, ka Alfa dan ka Arif. Wah, ini judulnya packing ulang, karena beban yang dibawa ikhwan harus lebih berat dari beban yang dibawa akhwat. Pada akhirnya, carrier ikhwan di packing ulang. Ternyataaa!! tas ka Arif dan Ka Alfa setelah dikumpulkan, bentuknya hanya seperti tas ransel ukuran kecil cobaaa!! Antara niat dan gak niat nanjak. :D ahh itu urusan ikhwan lah, saya tidak ingin ikut campur. Beberapa waktu kemudian, semua packingan selesai dibarengi dengan adzan maghrib yang berkumandang. Waktunya menunaikan kewajiban. Berjama'ah dalam ikatan cinta bersama mereka para akhwat tangguh! Selesai menunaikan kewajiban, kali ini kami benar-benar siap berangkat. Di ruangan pojok kantor wamy itu, kami mendapat petuah-petuah dari pak Iwan, sang tetua kami. Beliau berbicara lantang sambil berdiri di atas tumpukan kursi-kursi di ruangan itu, "kalau mau nanjak jangan pernah pakai jaket, karena nanti akan keringatan ketika nanjak, nah saat jaket dan baju basah, kalian akan kedinginan karena udara di sana dingin, dan bla bla bla". Kami menganggukkan kepala dengan pelan tanda mengiyakan.

Hmm, selesai mendapatkan petuah dari sang tetua, kami mulai menggendong beban masing-masing, carrier dan day pack. Sebelum benar-benar berangkat, kami diinstruksikan untuk berbaris sebentar di depan teman-teman Cave Trainer Academy, ada ka Ika, Rini, Ka kholid, Shidiq, Faris, Pak iwan, dan yang lainnya, lalu kami berdo'a bersama untuk keselamatan safar kami, tidak lupa untuk dokumentasi keberangkatan bersama sahabat yang lain.


Bismillah...ditengah hembusan angin malam, tidak mematahkan semangat kami sedikitpun untuk berangkat menuju TKP. Menyusuri jalan setapak demi setapak, kian lama kian menjauh dari kantor itu, wamy. Di depan kantor wamy, kami menunggu charteran angkot. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya kami berhasil mencharter mobil menuju terminal kp Rambutan. Sesampainya di Kp. Rambutan, kami sesegera mencari Bus menuju Cibodas. Bismillah, tidak lama bus itu datang. 

"ayo mas, ayo neng cepetan naik, banyak polisi di sana, gak boleh lama-lama berhenti, ayoo cepetan, itu taro tas nya di bagasi", begitulah kenek angkot itu berbicara kepada kami sambil setengah berteriak. 

Suasana kali itu sangat riweuh, banyak bis lalu lalang, banyak penjual yang berdagang, banyak orang-orang lalu lalang sibuk mencari bis tumpangan

"akhwat tas nya di bawa masing-masing aja", teriak Andra di tengah keriweuhan kondisi waktu itu. 

Akhirnya kami memutuskan untuk membawa tas kami masing-masing dan mulai menaiki tangga-tangga ke dalam bis sembari mencari tempat duduk yang kosong. 

"ini nih di sini aja", salah satu rombongan saya (ikhwan) berbicara kepada saya sambil menunjukkan jarinya ke salah satu tempat duduk.

setelah saya lihat, ternyata di samping bangku kosong itu adalah penumpang laki-laki, 
 "ahh gak mauu", saya berkata sambil mencari-cari tempat kosong yang lainnya.

"Udah, duduk aja, semuanya laki-laki, gak ada yang cewek".

huahhh, akhirnya saya pasrah duduk di sana, dengan kondisi yang kurang nyaman, kadang berdempetan dengan sang kenek saat bapak kenek itu menagih ongkos bis kepada para penumpang. Ya Allah, begitu kah kondisi yang harus dihadapi oleh para penumpang lain setiap harinya?
Bau rokok yang menyengat pun mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari para penumpang. Mual pada saat itu ketika saya mencium bau rokok yang menyengat. Saya ambil sudut jilbab untuk menutup hidung agar tidak mencium bau rokok tersebut. Pada saat sampai di pasar ciawi (seingat saya), banyak penumpang yang turun. Nurfa memutuskan untuk berpindah ke tempat yang kosong dan jauh dari asap rokok, ya tentunya di bagian depan bis. Tidak lama kemudian, setelah Nurfa mendapatkan kursi kosong (bagian 3 kursi), Nurfa menengok ke arah saya dan Alin, "kak di sini aja yuk, ini kosong, kita bisa bertiga". Finally saya dan Alin memutuskan untuk pindah. Ahh, nyaman sekali rasanya waktu itu. Tak perlu lagi risih karena berdempet-dempetan dengan penumpang laki-laki dan bapak kenek. Selama di dalam bis, ada beberapa pedagang yang menyuguhi dagangannya. Dan saya merasa tergugah dengan salah satu pedagang. Sosok lelaki yang mulai menampakkan kerutan di sekitar wajah meyuguhi dagangan buah melonnya yang di bawa sekitaran satu karung. Beliau menawarkan kepada para penumpang dengan santun. "Ahh, andai semua pedagang seperti beliau", batin saya.

"Ayo melonnya 15.000 satu. Di bawa pulang buat oleh-oleh di rumah. Ayo kang buah nya, boleh di coba, aya pisau, manis kang boleh di coba di sini", Celoteh beliau sambil membawa beberapa buah melon yang ditawarkan kepada setiap penumpang dengan logat bahasa sunda yang khas nan santun.

Akhirnya, bapak-bapak penjual itu banting harga, dan tetap menawarkan satu persatu sambil membawa buah melonnya kepada masing-masing penumpang.
"Ayo neng buahnya dibeli, 10.000 tiga"
Tak lama kemudian, makin banyak penumpang yang membeli dagangan bapak tersebut.
"Alhamdulillah rejeki lancar" 

Tidak lelah lelaki paruh baya itu menawarkan dagangannya, bolak-balik ke depan hingga belakang bis, dan tidak sebentar, mungkin memakan waktu hingga satu jam. Saya dapat merasakan kelelahan beliau, berbicara tak kenal lelah menawarkan dagangannya dengan nada yang kadang berteriak. Namun, sedikit demi sedikit dagangan beliau habis. Begitulah perjuangan seorang Ayah demi mencari nafkah yang halal bagi keluarganya, subhanallaah.

Beberapa jam kemudian, kami sampai di tempat tujuan, di depan Pasar Cipanas. Kami menunggu para ikhwan nego charteran mobil angkot, untuk mengangkut kami menuju ke atas. Sembari menunggu ikhwan-ikhwan itu, kami merebahkan otot-otot yang kaku selama di perjalanan tadi, terkadang meneguk minuman untuk menghilangkan dahaga. Nikmatnya kala itu, sambil merasakan hembusan angin semilir malam. Dingin.
Ini dia potret lelahnya kami sambil menunggu ikhwan-ikhwan nego harga charteran mobil untuk naik ke atas.

Chibi...chibi.. ha..ha..ha :D

"gimana nih, abangnya minta 60.000, gak apa-apa deh ya? cuma beda 5.000 doang, lagipula kasihan abangnya", (karena pada saat itu anggaran maksimal untuk charter angkot hanya 55.000).
Ok, kami memutuskan untuk naik. Bismillah. Mobil angkot itu sudah penuh dengan carrier dan day pack. Tanjakannya sangat terjal bebatuan. Kondisi jalan yang rusak membuat kami terpental-pental selama di perjalanan. -_-

Tidak lama kemudian, ka Imam melihat HP, ada sms dari ka Amin. 
"nanti kalau udah di pasar cipanas, kabari ya", isi sms nya kurang lebih seperti itu.

Wahhhh ka Amin ketinggalan di pasar Cipanas nih kayaknya. Yang lain mulai panik.

"Ayo cepetan hubungi"
"Telpon ka amin sekarang, cepetan"
"aduhhh lagi kenapa gak bilang daritadi."
"aduh gak bisa nelpon, hp ku gak ada sinyal"

Yaa begitulah keriweuhan saat itu. Di balik keriweuhan, sinyal HP sudah mulai menghilang. Ini petaka! :D
Akhirnyaaaa HP Nurfa masih menandakan adanya sinyal HP, langsunglah ka Amin di Telepon oleh ka Imam. 

"Min, ente dimana? haduhhhh.. naik ojek aja deh ke atas, nanti uangnya ane ganti"

dan tiba-tiba HP nya mati.. ini artinya sinyal sudah nihil. Wallahu a'lam dengan nasib ka Amin waktu itu. Pasrah. Tetap calm down selama di angkot.

Setelah sampai di TKP sekitar pukul 23.30, kami para akhwat di minta untuk istirahat di warung abah. Di sana ada kamar mandi, tempat sholat, wah lengkap deh. Untuk menuju warung abah, harus jalan menanjak. Ngos-ngosan rasanya waktu itu. :D Sampailah di warung abah, kami langsung menaruh sebagian tas yang berat, ada yang meneguk minuman, ada yang ngobrol-ngobrol. Ehh tidak lama kemudian, ka Amin muncul dengan membawa carrier. Wahh lega rasanya sudah sampai tujuan dengan selamat dan formasi telah lengkap.

Tepat pukul 01.30 pagi semua istirahat, untuk mengumpulkan energi mendaki di keesokan harinya.

Cave Adventure Expedition #GunungGede 3-5 Mei 2013 #Persiapan

Sebelum berangkat naik Gunung, kita harus mempersiapkan perlengkapan apa saja yang harus dibawa. Berikut perlengkapannya :

1. Perlengkapan kelompok
a. Tenda
b. Kompor
c. Nesting (tempat masak)
d. Gas
e. Parafin
f. Gunting
g. Pisau lipat
h. Spiritus
i. Kapas

2. Perlengkapan Pribadi
a. Tas gunung (Carrier)/Day Pack
b. Matras
c. Sepatu/Sandal gunung
d. Sleeping Bag
e. Pakaian ganti
f. Kaus kaki
g. Sarung tangan
h. Celana atau Rok Lapang
i. Jaket
j. Rain Coat
k. Lilin
l. Korek Api
m. Tissue kering dan basah
n. Sandal
o. Senter/Head Lamp + Baterai cadangan
p. Gelas, Piring, dan Sendok
q. Kertas Nasi
r. Tali Rafia
s. Plastik kilo + Kresek
t. Payung

3. Perlengkapan P3K
a. salonpas
b. counterpain
c. balsem keram otot
d. minyak angin
e. tolak angin
f. hansaplast
g. obat pusing
h. Obat khusus (jika ada penyakit khusus)
i. obat demam
j. Habbatussauda
k. Madu
l. Vitamin
m. Plester
4. Perlengkapan Logistik
Perlengkapan disesuaikan dengan track dan lama perjalanan ya. Untuk di post-an ini, saya membuat list perlengkapan logistik untuk ke Gunung Gede selama kurang lebih tiga hari. Perlengkapan logistik ini wajib di bawa oleh masing-masing orang.
a. Beras secukupnya.
b. Air minum 1,5 Liter
c. Telur
d. Roti
e. Mie 3 Pcs
f. Kopi, susu, dan teh
g. Gula dan Garam
h. Coklat
i. Sambal dan Kecap
j. Gula merah
k. Makanan siap saji (spagethy, sarden, nugget, dll)

H-2 Rabu, 01 Mei 2013
Saya mulai pusing mengumpulkan perlengkapan yang harus di bawa. Maklum masih pemula, belum punya Head lamp, nesting, kompor, sleeping bag, tenda, pisau lipat, matras, dan sandal gunung. Akhirnya, H-2 saya menyempatkan membeli perlengkapan yang penting, yaitu sandal gunung dan head lamp. Alhamdulillah di dekat kampus saya ada toko Leuser, toko yang menjual perlengkapan mendaki. Wahhh tenang deh sudah punya sandal gunung. Pada saat H-2 di group Whatsapp Cave Adventure sudah ramai cuap-cuap mengenai persiapan naik gunung. Cieh gaya banget pakai bikin grup di whatsapp segala :D

Bayangkannnnnn saja, H-2, perlengkapan kelompok belum lengkap. Pada akhirnya saya sibuk nanya sana-sini ke adik-adik kampus, ke teman-teman yang suka mendaki, untuk meminjam nesting dan kompor dan carrier. Hamdallah waktu itu tenda sudah lengkap, kami butuh tiga tenda dan itu sudah terpenuhi. Nah, kompor, carrier, dan nesting terkumpul juga di H-1. Di rombongan kami butuh 2 nesting, 4 carrier, dan 2 kompor. ahhh tinggal perlengkapan pribadi yang belum lengkap. Saya belum punya matras, dan sleeping bag. Kalau tidak ada sleeping bag, mungkin saya tidak bisa tidur nyenyak karena udara di gunung gede itu sangattt dingin menusuk kulit (halah lebay). Ehmm, ternyataaka Amin menawarkan pinjaman sleeping bag nya dan dek Nesya meminjamkan matrasnya. Yeyyyy!! jadi nih kita cawww naik gunung. Ihiyyy!! Berangkatttt!!

H-1, kamis, 02 Mei 2013
Pagi itu saya ada jadwal privat, selesai mengajar privat saya sempatkan membeli rain cover untuk carrier saya yang berukuran 40L di toko Consina di jln warung Buncit, setelah itu dilanjut dengan mengajar hingga ashar. Ba'da ashar kami briefing, tetapi saya baru bisa hadir jam 17.30, secara harus mengajar dulu. Pejaten - Wamy (M kahfi II). oke formasi belum lengkap, tapi briefing tetap berjalan dengan baik. Ada saya, Lina, ka Sumi, Andra, ka Amin, Nesya, dan Nurfa. Selesai briefing ba'da maghrib, saya dikabarkan oleh teman saya lewat sms kalau saya bisa ambil tas carrier 60L nya hari itu juga, ba'da maghrib, di daerah pejaten. O-owww masa harus balik lagi ke Pejaten? oke saya harus balik ke Pejaten malam itu. Pukul 19.00 saya sampai di TKP, badan lemas, capek, haus, kepikiran belum packing sama sekali, belum membeli logistik, ampuuunnnn!!!! (mulai stress). Finally, tas carrier 60L berhasil saya pinjam. Huft. Selesai mengambil tas carrier itu, saya harus balik lagi ke wamy, memberikan carriernya ke ka Amin, karena di carriernya akan diisi dengan perlengkapan tenda, nesting, dan kompor. hmmm dengan sisa tenaga yang ada, perjuangan menuju wamy pun membuahkan hasil. Sekitaran pukul 20.15 sampailah saya di wamy. Semua perlengkapan sudah lengkap. Selesai semua, kami pulang ke rumah masing-masing, Tapi tidak dengan saya, saya harus membeli perlengkapan logistik yang belum saya siapkan. Berangkatlah malam itu juga ke pejaten village. Pegel-pegel bolak-balik mencaricari perlngkapan logistik. Akhirnya, saya benar-benar bisa merasakan nikmatnya kasur sekitar jam 11.50 malam. Malam itu, saya masih belum packing, tetiba badan saya demam tinggi. (wahhh gak beres nih). Dalam kondisi demam seperti itu, saya ngadu ke grup whatsapp Cave Adventure kalau saya sedang demam. :D (manja) 

Saya: "Saya demam masa. *pamer"

ka Amin: "ya udah, istirahat rul. Kecapean tuh"

Nurfa: "yah kak nurul beneran demam? :'("

Andra: "Sugesti itu ka"

Saya: "belum packing sama sekali"

Andra: "nanti aku packingin di wamy. kk sekarang istirahat, besok jam 09.00 ke wamy."

Saya: "iya, ok"

Tumben si Andra baek! :D biasanya musuhan banget sama saya -___-
Dan malam itupun akhirnya saya bener-bener gak packing sama sekali, saya memutuskan untuk mengumpulkan tenaga alias istirahat untuk menyiapkan fisik di keesokan harinya pada saat keberangkatan.

Cave Adventure Expedition #GunungGede 3-5 Mei 2013

Temans, apa kabar? Lama tidak menulis nih. Alhamdulillaah beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3-5 mei 2013 saya berhasil merealisasikan mimpi saya, yaitu mendaki gunung! Yeah! Saya sudah merealisasikannya, membuat ia menjadi nyata tergenggam! Bersama para pejuang kehidupan, sahabat-sahabat di Cave Trainer Academy, ka Imam sang leader, ka Amin, Ka aji, Andra, Lina, Alin, Nurfa, Nesya, Sekar, Ka Sumi. Serta teman-teman di luar cave yang sudah mau bergabung dalam ekspedisi ini yaitu, ka Arif, Ka Alfa, dan Nita. Kalian semua hebat! Semua akan menjadi kenangan indah. Berjuang bersama menapaki tiap tanjakan terjal itu dengan beban tas yang tak ringan, melewati akar-akar kecil itu, melawan terjangan angin yang kian membesar, merasakan tiap dingin yang kadang menusuk kulit, melewati turunan berbatu yang terjal dikala matahari telah menutup dirinya dan diterangi dengan penerangan yang seadanya, melihat indahnya hamparan luas bunga edelweis, bersujud bersama di tengah indahnya lukisan Rabb kita, ahh indah dan terlalu panjang jika saya mendeskripisikan semuanya.

Saya ingin berbagi cerita dari mulai persiapan hingga kepulangan kami, mungkin akan saya ceritakan dalam beberapa bagian. Semoga menginspirasi. :')

Menanti Cinta di Penantian Cinta Orang Lain

coba deh baca cerpennya... berasa aneh banget sama kisahnya.. kurang pantas seperti itu.. objeknya sungguh terlalu.. -__-

dakwatuna.com - Di luar kaca auditorium aku melihatmu sedang ngobrol dengan teman-temanmu. Sangat jelas wajah putihmu terlihat. Ingin rasanya kubilang aku merindukanmu, tapi kita sudah ada jarak yang amat jauh, dan mungkin kau juga sudah melupakanku. Semua orang menuju masjid Jami untuk shalat Zhuhur, kecuali aku, dan beberapa akhwat lainnya yang tetap tinggal di dalam ruangan, karena sedang tidak shalat. Aku duduk di depan jendela ruangan terbuka. Kupasang earphone di telinga, surat ar-rahman mulai kudengar sangat pelan. Aku kaget saat tak sengaja ku dengar pembicaraan Naila teman akhwatku dengan sahabatmu Khalid di samping ruang auditorium.

“Masa sih mas?? Nggak punya kekasih idaman? Bukannya kata orang-orang mas itu suka sama teman angkatan kita, mantan ketua UG (ummahatul ghad/keputrian) di MTs dulu, mba Nisa kan? Tanya Naila memasang wajah serius.

“Hehe, seandainya Ana suka sama dia, anti nggak usah tahulah Nai…apa hak anti nanya-nanya masalah privasi orang hayoo??…yang hebat itu, Rafa tuh, dia mah udah yakin jadilah pokoknya…!!”
Aku mencoba melebarkan telingaku dibalik earphone, yang mereka tidak akan mengira kalau aku tahu apa yang dibicarakannya. Tentangmu yang sudah tidak memberi kabar sejak aku masuk di semester 2 sampai sekarang aku semester 6, dan aku tidak tahu kenapa kamu begitu.
“Maksudnya?” Naila kembali bertanya.

“Iyah…udah punya calon!! Anak orang kaya, cantiknya masya Allah Nai…teman kuliahnya, tapi dikenalin sama Ustadz yang deket sama dia sihh…paling juga ntar abis kuliah langsung nikah…” jelas Khalid.
Mataku tiba-tiba gelap dan berair. Seperti terkena petir yang menghentikan aliran jantung. Pembicaraan mereka seperti setrum yang mematikan aliran darah. Ada rasa sakit di hati yang mulai berprasangka buruk padamu. Kecewa dan rasanya ingin marah. Rasanya aku tidak mau meneruskan acara reuni ini. Aku ingin pulang. Rasa sedih dan kaget ku lebih besar daripada rasa kangenku untuk bertemu semua teman dan keluarga besar Ma’had MTs. Tiba-tiba aku merasa tidak ingin bertemu wajahmu. Ada segores benci yang membalut rapuhnya hati. Setiaku selama 3 tahun silam tak ada artinya sama sekali ternyata di matamu. Betapa aku menghormati dan menjaga perasaanku dari selainmu saat aku di perantauan, meskipun aku dan kamu jauh, suka sama orang lain, rasanya tidak mungkin untuk kulakukan, aku bukan mereka yang bisa dengan mudahnya berganti hati dan mengagumi orang berbeda dalam hitungan hari. Meskipun tak pernah kudapati satu pesan kabar darimu, aku tetap menunggumu dengan husnudzan.

Ekspresi wajahku telah berubah saat sahabat-sahabatku selesai shalat. “Makan jama’i telah menanti!! Saatnya makan sahabatku…” kata Rara dan Lintang sambil duduk di sebelahku. “Seangguk kata iyah kubagi pada 2 sahabat yang duduk saling berhadapan. Aku makan di luar ruangan, ternyata kamu juga ada di area yang sama.

Rara bilang kamu melihatku terus. Dan aku tidak bergeming, tetap ku tundukkan kepalaku dalam bisu. Tapi rasa ingin marahku semakin besar, aku pun memberanikan diri untuk melihatmu di arah sana. Ku lihat dengan pandangan yang sangat tajam. Aku tak punya senyum lagi, yang aku punya sekarang adalah bentuk wajah yang sangat muram untuk kau lihat. Kau melihatku di saat aku melihatmu. Beberapa detik aku melihat wajahmu dengan sangat jelas. Ku palingkan kembali wajahku ke arah manapun yang aku mau. Rasanya aku sudah tidak bisa lama-lama melihatmu ada di sini. Aku putuskan untuk pulang lebih awal. Makananku tak ku makan. Aku pamitan sama sahabatku, aku bilang pada mereka kalau ibuku menyuruhku pulang lebih cepat. Aku tau, Rara dan Lintang memperhatikan wajahku sejak tadi. Tapi aku tidak peduli. Yang aku tahu sekarang, aku mau pulang.

Dengan motor, aku membelah jalanan yang tiba-tiba seolah berkabut. Airmata menetes sangat banyak. Segala rasa mulai membuncah tak tertahan. Sudah setengah jam kususuri jalan. Rasanya begitu lama dan membuat perasaanku menjadi sangat tidak baik-baik saja. Dalam keadaan mengemudi terburukku, aku hampir menabrak sebuah pohon yang tidak jauh jaraknya dari jalan di sebelah kanan. Yang lebih membuatku kaget, ternyata aku berhenti karena sebuah motor dengan kecepatan sangat tinggi telah menghalangi jalan untuk ku kendarai motorku dengan arah yang bersilangan. Kamu. Kamu turun dari motor dan berdiri kira-kira jaraknya satu meter dari tempatku. Aku hanya diam dalam tunduk, seketika Air mataku berhenti dalam waktu secepat kilat, tanda aku baik-baik saja dan symbol bahwa aku tidak punya masalah apapun denganmu. Tak kulihat wajahmu walau hanya sekali.

Tak banyak yang ingin ku katakan. Aku juga tak mau bicara apa-apa lagi denganmu. Tak berani ku angkat wajahku, aku juga tak punya kepentingan denganmu. Ku belokkan motorku mencari jalan yang lain, tapi kau lagi-lagi berdiri tepat di depan motorku. Terpaksa ku parkir motorku di pinggir jalan dan aku berdiri masih dalam tunduk membiarkanmu berjalan ke arahku. Melihat sikapku, kamu pun mulai membuka pembicaraan sambil terus melihat wajahku dari samping.

“Apa kabar?” Tanyamu memandang wajahku. “Baik”. Tak peduli lagi, mau kamu bilang aku jutek atau sombong. Apa yang kau lihat inilah aku. Kalau tak suka pergi saja. Kata-kata ini yang terus membuatku berani menahan airmata di depanmu.

“Kenapa?” Tanyamu lagi. “Nggak.” Masih dalam aku yang keras.

“Hmmm…Nggak mungkin nggak kenapa-kenapa…apa harus Ana ambilkan cermin biar anti tau, seberapa muram wajah anti sekarang???” kamu tersenyum simpul melihat ekspresiku.

 “Za kan udah bilang, nggak kenapa-kenapa! Antum kenapa ada di sini? Apa ada yang ingin dikatakan? Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan sekarang!! Za ada urusan lain! terus juga di sini hanya ada kita, Za takut jadi fitnah!” Aku bicara dengan nada yang membuatmu semakin heran.

“Anti kenapa sih?? Ana punya salah sama anti? Ana minta maaf kalau Ana membuat kesalahan.” Dengan cepat ku jawab pertanyaanmu, “nggak ada!”

“Kenapa dari tadi, anti itu melihat Ana seperti itu? Ana tahu 3 tahun kita nggak pernah kontekan sama sekali. Di sana Ana sibuk dengan tuntutan beasiswa, Ana yakin anti juga sibuk dengan tuntutan beasiswa anti. Ana juga selama 3 tahun itu terus berusaha menshalihkan diri, ingin menjadi seorang pemuda yang dibanggakan oleh Allah, ingin menjadi seorang pemuda yang benar-benar pemuda, dibutuhkan banyak orang, tonggak bangsa, pembela dan penegak agama Allah, Ana nggak mau mengotori hati anti yang tidak tahu apa-apa. Ini salah Ana. Ana menghindar dari anti? Iyah…Ana memang menghindar! Tapi bukan berarti Ana benci sama anti. Bukan seperti itu. Ana juga tidak dengan rela hati ingin melupakan anti! Tapi Ana ingin Ana menjadi lebih baik dalam aturan yang seharusnya Ana ataupun anti jalani. Tidak memberimu kabar, bukan berarti Ana tidak pernah merindukan anti. Ana kangen sama anti. Tapi Ana tahu yang terbaik untuk anti, yaitu dengan cara tidak menghubungi anti.”

Telingaku serasa pecah seketika. Dunia menjadi buram di mata hatiku. Aku tidak bisa untuk menahan tangisku lagi. Aku sakit hati, aku sakit hati karenamu. Tersedu-sedu aku dibalik kacamata. Aku juga sadar sejak lama, sebelum kamu berubah, aku juga ingin seperti yang kau bilang, kata-kata yang sama selalu ku bilang pada Tuhanku setiap sujud panjang kujumpai. Tak peduli kamu akan menertawakan kesedihanku kini, atau akan bilang aku wanita cengeng sekalipun. Yang aku tahu aku sakit hati selama 3 tahun itu.

“Zabia tahu, tau Antum sibuk, Za juga sudah mengira kalau Antum sekarang sudah berubah untuk menjadi seseorang yang selalu Antum impikan. Menjadi seorang pemuda seutuhnya. Za tidak pernah merasa keberatan selama 3 tahun tidak mendapat kabar apapun darimu. Za juga tidak pernah berharap Antum masih sama seperti yang dulu. Za mendukung setiap citamu dalam diamku. Za bersyukur pernah mengenalmu, mengajariku untuk tetap menjadi seorang wanita yang menjaga iffahnya. Antum tidak usah khawatir, Za tidak pernah punya minat untuk membebani masa depanmu, Za tidak pernah punya niat untuk menghalangi langkahmu. Jalan hidupmu sangat luas dan panjang, silakan lakukan apapun yang Antum mau. Za tidak akan mengikuti jalanmu, jadi tak usah khawatir dengan keadaanku. Za yang minta maaf, telah membuatmu punya pikiran seperti itu tentang Za. Za tahu kok, siapa Za, siapa Antum. Za juga ingat betul, kita tidak pernah punya hubungan apapun. Jadi mau 3 tahun atau 4 atau 10 tahun pun Antum tidak memberi kabar padaku, tak masalah. Za bukan siapa-siapanya Antum dan sebaliknya. Satu lagi, maaf kalau sikap Za membuat Antum merasa bersalah tadi. Za harus pergi.” Aku usap air mataku dengan gerakan tangan yang kasar. Tak berani ku lihat matamu. Ku coba untuk mengendarai sepeda motorku. Tapi kamu malah memegang stang motorku.

“Mau ke mana?” katakan anti pernah dengar sesuatu tentang Ana? Kalau anti mau marah, marah saja sekarang. Mumpung Ana ada di sini.” suara mu sedikit tinggi.

Kulihat matamu dengan sangat tajam. Dengan butiran air mata yang semakin deras menerjang ruang keras hatiku, ku katakana padamu, “Maksudnya apa?” Harusnya Za yang nanya? Maksud Antum apa? Kalau cuman untuk bercanda, mending tak usah ngomong apapun ke Za. Za tak punya waktu untuk bercanda, Za bodoh di pelajaran cinta, Antum juga tahu itu kan! Za bingung sendiri, padahal Za tidak pernah curang di belakang Antum”

“Maksud anti apa?” tanyamu dengan nada bingung.

“Jangan pura-pura nggak tahu, Antum sudah menemukan sosok wanita yang sempurna…begini, begitu dan Za tidak tahu lagi.”

 “Siapa?? Siapa yang bilang Za?” 

“Za nggak tahu dan nggak mau tahu.” 

“Ana tahu!”. 

“Ya sudah kalau tahu, kenapa masih bicara sama Za, jangan ada di sini lagi! Za mau Antum pergi, Za sakit hati tau nggak sih! Lama menanti kabar dari Antum di persimpangan jalan. Bahagia rasanya akan bertemu dengan Antum hari ini, tapi semua itu masa lalu dan cuman sebuah cerita pena belaka. Ternyata ku dengar Antum begini dan begini. Terserah Antum. Hidup, hidup Antum ini kok.”.

“Anti cemburu?”. 

“Nggak kok!! Cuman sedih aja dengan diri sendiri!! Terlalu memakai perasaan. Harusnya udah tahu dari awal seperti ini. Nggak kenapa-kenapa kok, semuanya kan udah seperti ini. Za… mendoakan Antum dengannya bahagia. Semoga kalian berjodoh!!” Aku melebarkan senyum di antara tangisan yang deras padamu.
 
“Anti nggak kenapa-napa?”. Ku gelengkan kepalaku. “Ana sama dia, ust Ana yang jodohin Ana! Tapi Ana belum tahu, masa depan masih panjang, Ana masih kuliah, masih lama untuk menikah. Jodoh kan siapa yang tahu, mungkin sama anti mungkin sama dia wallahu’alam…” katamu.

Sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah mendengar perkataanmu ini. “Tidak! Za tidak pernah punya niat untuk memiliki mimpi macam-macam dengan Antum. Za yakin, kenapa ust Antum memilihkan dia untuk Antum, karena mungkin dia memang baik untuk Antum. Maaf Za telah berkata banyak pada Antum tadi. Sampaikan salam untuknya akhii. Pasti dia beruntung kalau punya suami seperti Antum. Bilang maaf padanya, kalau aku pernah dekat dengan Antum. Antum dan dia tak usah khawatir! Mulai sekarang, saat ini juga, Za akan pergi!!!”. Ku pake helmku, ku hapus air mataku, ku jalankan motorku dengan kecepatan tercepat. Aku tinggalkan kamu dijalan itu agar kamu tidak sempat bicara apa-apa lagi. Aku bisa membaca dari raut rupamu, kalau kamu ingin bilang bahwa kamu belum tentu memilih dia. Tapi aku tidak bisa menerima, jika aku berada di antara dua pilihan, aku pasti akan memilih untuk mundur. Selama 3 tahun, aku mengira kalau kau setia dan akan menjaga ucapanmu tentangku. Biarkan kisah jahiliyah kita menjadi pelajaran hidup bagiku. Kini bumi menjadi saksi tentang patah hatiku yang sebenarnya sudah lama merindukanmu. Tapi bumi lebih tahu kalau aku lebih merindukan untuk kembali menjadi aku yang sebelum mengenalmu. Aku ingin kembali pada Tuhanku, yang selalu setia dan aku tidak pernah kecewa karena mencintai-Nya.

Ya Allah…yang maha memiliki bentuk cinta hakiki, aku mencintaimu lebih dari pada dia dan siapapun. Aku ikhlaskan dia memilih cinta yang lain. Aku akan sabar menanti siapa calon imamku nanti. Untuk calon imamku, maaf aku pernah berbuat curang padamu.

Sumber: dakwatuna

Gunung Gede - Pangrango..I'm Coming!!

Bismillah. Temans, masih ingatkah dengan tulisan saya dengan judul Mimpi Selanjutnya.. Mendaki!! ?? 
Untuk pembaca setia tulisan saya pasti masih ingat deh. Hehehe. Yap, insya Allah awal mei ini ditawari untuk naik gunung gede - pangrango bersama teman-teman Cave Trainer Academy! Nah saat ini saya sedang membuat list perlengkapan yang harus dibawa ke sana. Huaaaahhh tidak sabar sekaliiii rasanya. 

Woohoo its dream will come true soon. Ayoo list mimpi-mimpi kita, temans. Saya sudah membuat list 42 mimpi-mimpi saya. Saat ini ingin menambah list mimpi saya menjadi 100 mimpi. Bagaimana dengan teman-teman? Sudahkah teman-teman menulis mimpi-mimpi kalian? Ayoo semangat wujudkan mimpi!!!

Bidadariku, Hadirmu Ibarat Purnama

Tidak banyak yang paham
Hanya sedikit yang mengerti
Akan tugas beratmu sebagai seorang istri
Sebagai ibu dari anak-anak

Waktu kerjamu bukanlah 8 jam
Bukan pula 12 jam
Akan tetapi 24 jam bahkan lebih
Bukanlah dari pagi sampai sore
Bukan pula dari malam sampai pagi
Akan tetapi dari pagi hingga pagi lagi

Siang engkau lelah bekerja
Tak bisa istirahat barang sekejap
Malam engkau lelah begadang
Menunggui dan menemani bayi kecil kita
Tak menemui kesempatan untuk jeda sejenak
Melepaskan gurat-gurat kelelahan di wajahmu

Wahai bidadariku
Engkau bagai pahlawan di mataku
Setiap gerakmu sangat berarti
Menuntun rumah tangga kita
Menuju sakinah mawaddah wa rahmah

Aku teringat pesan Rasulullah
Nabi kita yang mulia
Istri kalian punya hak atas kalian
Sebagaimana engkau punya hak atas mereka

Ketahuilah
Engkau mengambil wanita
Sebagai amanah dari Allah
Dan engkau halalkan kehormatan mereka
Dengan kitab Allah
Maka selalulah berbuat baik
Terhadap istri-istri kalian

sumber : dakwatuna

Yuk Tulis Mimpi-Mimpi Kita

"Dulu ane tuh pernah pas bulan puasa tinggal di kostan di deket IPB bareng temen-temen ane, kan kostan di sana murah tuh ya yaa sekitar 200an, nah itu tuh pas ane masuk ke kostan temen ane itu subhanallah keren banget! mereka tuh pada nulis di tembok-tembok gitu. Nulis mimpi-mimpi mereka. Ah, keren banget dah pokoknya. Dan hampir semua temen-temen ane yang kuliah di IPB kayak gitu semua.", ka Imam bercerita panjang lebar ketika tengah meeting bersama tim.

Saya jadi terinspirasi dengan diskusi kami malam tadi. Memang pasti semua memiliki mimpi. Tapi mungkin mayoritas menganggap mimpi itu hanya sekadar lewat sekelebat di pikiran saja, termasuk saya ini yang masuk di kelompok mayoritas. :D

Tapi, bukankah ada baiknya kita juga menuliskan mimpi-mimpi kita dengan jelas, membubuhkan dengan tinta tiap mimpi-mimpi kita, dan menempelkannya dengan jelas di salah satu sudut kamar kita?

Di awal semester sewaktu saya kuliah dulu, saya sempat mengikuti kegiatan training motivasi untuk mahasiswa baru di kampus saya.  Sewaktu training berlangsung, pemateri menyuguhkan suatu video yang menurut saya sangat menginspirasi. Di video itu dikisahkan, seorang mahasiswa IPB yang menulis 100 mimpinya dalam selembar kertas. Ya, hanya dalam satu lembaran kertas putih lusuh. Lalu, lembaran kertas lusuh itu selalu ia pajang dengan jelas di sudut kamarnya. Banyak teman-temannya yang menertawakannya. Setiap ia berhasil merealisasikan mimpinya, maka ia coret satu per satu mimpi tersebut, hingga akhirnya tersisa satu mimpi yang belum ia torehkan coretan di kertas lusuh itu. Ia bermimpi melanjutkan studinya di Jepang. Dan pada akhirnya, di mimpi yang terakhir, beliau berhasil merealisasikannya lagi. Mungkin banyak teman-teman yang sudah menonton videonya. Menurut saya videonya sangat menginspirasi.

Mulai sekarang, janganlah takut bermimpi. Bermimpilah setinggi mungkin, lalu tuliskanlah mimpi kita dalam selembar kertas, yakinlah bahwa suatu saat akan ada suatu hal yang luar biasa pada kertas impian kita. Selamat bermimpi dan selamat mencoba!

Nikmati Setiap Aktivitas Kita

Assalaamu'alaikum..
Sudah lama pula tidak berkunjung di blog dikarenakan banyak aktivitas yang memaksa untuk produktif dari pagi hingga malam. Ini namanya pengangguran banyak acara. :D

Malam ini saya demam tinggi, mungkin lelah dengan aktivitas beberapa hari lalu, terlalu memporsir tenaga sehingga demam kambuh. Lagi demam gini, masih sempatin menyelesaikan beberapa targetan. Membuat materi untuk training di keputrian labschool, menyelesaikan soal-soal persiapan Ujian Nasional di bimbel CLC, dll. Nikmati, nikmati, nikmati. Walau kadang kondisi badan tidak seperti yang diharapkan, tapi tetap saja setiap detik jam tetap melaju perlahan, yang memaksa diri untuk bekerja lebih keras lagi, lebih serius lagi. Lakukan semua karenaNYA. Insya Allah semua adalah ibadah berbuah pahala jika kita lakukan semua aktivitas kita karenaNYA. : )

Selamat Menua

Bismillaah.. 21 tahun sudah menjajali setiap liku hidup. Masih banyak kurang sana-sini. Masih banyak yang harus diperbaiki. Terima kasih Rabb, atas semua karunia yang telah diberi, atas seluruh cinta yang tengah dikasihi.

Terima kasih atas segala masalah yang Kau berikan, hingga masalah itu kadang menjadikanku lebih kuat menjalani setiap fase-fase kehidupan ini. Terima kasih kepada murid-murid saya di bimbel yang telah memberikan saya surprise berupa kue dan kado. Untuk Hesti dan Maya, jazaakumullah khair. Semoga Allah membalas kalian dengan yang lebih baik :). Semangattt yoo untuk Ujian Nasionalnya!!  >_<

21 tahun bukan usia muda lagi, waktunya berkontribusi lebih, waktunya memberi lebih, waktunya bekerja lebih keras lagi.. Yuk semangat jalani hari.. mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari saat ini.. :)