RSS

Untitled #2

Hai hai...heleuh lamanya tidak menengok blog ini. Apa daya, sang penulisnya sibuk. ekeke. Ceritanya mau curhat nih. Sudah tiga hari saya benar-benar bedrest di rumah, gak ada yang namanya aktivitas keluar rumah, gegara sakit yang mengharuskan saya untuk gak naik motor. Ok baiklah akhirnya off kuliah 2 hari dan ngajar. Sedih rasanya ninggalin semua aktivitas, terutama kuliah. Satu hari gak masuk kuliah itu rasanya ketingalan banyak banget banget materi kuliah.. ohhh my... T_T

But, ini benar-benar peringatan banget yang Allah kasih ke saya bahwa nikmat sehat itu luar biasa berharga. Ok mulai sekarang jadi berpikir untuk serius menerapkan pola hidup yang sehat. Gak cuma mama yang cerewet gegara anaknya ini sakit, tapiii dokterpun ikutan cerewet pas saya checkup ke dokter 2 hari yang lalu. Ini mungkin sudah nalurinya yah. Gak apa-apa, cerewet demi kebaikan, ya kan? Bulan ini saya sudah silaturrahim sama dokter 2 kali, awal bulan dan akhir bulan ini. What an amazing moment, guys! -_- Saya sebut ini silaturrahim aja sekalian. -_-

Dan hari ini, jum'at, ternyata jadwal liqo yang harusnya kamis siang kemarin, digantilah hari ini. Ok saya akhirnya izin ke teman 1 liqoan kalau saya gak bisa hadir karena sakit. Dan taraaaa! Ternyata, teman saya yang saya nitipin izin, dia juga gak hadir cyiiin. -____- Dan saya akhirnya di sms-in sama murobbiyah saya, dimanakah saya? Yaudah, saya bilang kalau saya sudah izin ke Ninda karena sakit dan kemarin habis checkup ke dokter terus disuruh bedrest dulu sama dokternya. Itu curhatan saya lewat sms ke murobbiyah saya.

Menuju jum'at siang ini, sembari saya istirahat di kamar, saya sempatkan jualan. (kekeke, gak apa-apa dong ya). Tiba-tiba, saya lihat hape dan disana tertera 5 missed call. Pas lihat namanya, waaahhh murobbiyah saya itu! gawat, apa yang terjadi ini sampai saya di telepon 5 kali. But, tetap positif thinking tapi deg-degan.. -_-
Ehhh, gak lama ada suara panggilan dari mama dari lantai bawah,
"Ruulll.. ada temennya tuh banyak..."

Terus saya bengong sebentar, mikir sebentar, lha perasaan saya gak janjian sama siapa-siapa di rumah. Lalu siapakah mereka yang dateng ke rumah? Ternyataaaahhhhh! mereka adalah teman liqo saya dan murobbiyah sayaaaa pemirsahhh. Huaaa speechless banget dijengukin ginihhh. Padahal mereka gak tahu alamat rumah saya. :'( Alhamdulillaah mereka gak nyasar. :(

Oke karena tangan saya pegel dan saya harus matikan netbooknya, so sudah dulu yaa curhatan kali ini pemirsah sekalian... sampai berjumpa ditulisan selanjutnya.. *sambil dadah-dadah*

Untitled

Bismillaah.. :)
Saya tidak tahu mengapa jari ini memaksa saya untuk menulis di depan netbook lusuh ini. Mungkin adakalanya saya ingin menengok kabar blog saya. Apakah saya masih produktif menulis atau tidak. :)

Saya butuh waktu sendiri untuk menenangkan perasaan saya. Yap, saya ingin hilang dari mereka, karena saya berpikir bahwa saya sudah tidak bisa produktif kembali seperti dulu. Dan masih banyak juga yang harus saya lakukan di luar sana. Saya ingin rehat dalam kesendirian. Biarkan saya menjadi kepompong untuk beberapa waktu. Terima kasih atas pelajaran itu, bagi saya itu adalah sebuah peringatan yang nyata. Amat nyata untuk saya. Betapa pentingnya muhasabah diri. Semoga kelak kita bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Selamat menjadi kepompong, Nurul. :)

Kado Pernikahan Untuk Istriku, #Kupinang Engkau Dengan Hamdalah #2

 Bismillaah..
Dengan memohon kekuatan Allah, izinkan saya meneruskan tulisan saya sebelumnya, yang belum membaca tulisan sebelumnya, sila baca Kado Pernikahan Untuk Istriku, Kupinang Engkau Dengan Hamdalah #1. Jujur aja, pas baca bagian ini asli saya netesin air mata. Gak tahu ini karena efek lebay atau gimana. Atau mungkin saya bacanya terlalu mendramatisir, atau bisa juga karena saya cengeng. Atau bisa juga........ Bisa juga karena hmm.. bisa juga karena sebab-sebab lainnya. Oke temans, silaa baca artikelnya hati-hati dan dengan hati ya. Hehe. Semoga Manfaat.

2. Wanita Boleh Mengajukan Diri 
Ada empat wanita yang dimuliakan Allah ta'ala yag mengajukan diri. Siapakah dia? Yaps, salah satunya adalah Ibunda Khadijah bin Khuwailid, seorang yang melahirkan wanita mulia lainnya dari rahimnya yang suci, Fathimah Az-Zahra. Rasulullah begitu mencintai Khadijah, hingga seringkali Aisyah dibuat cemburu atasnya.

Aisyah pernah berkata, "Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabat-sahabat Khadijah."

Maka aku (Aisyah) pun berkata kepadanya (Rasulullah), "Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini selain Khadijah...!"

Maka berkatalah Rasulullah, "Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapat anak."

Dalam riwayat lainnya dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu, lalu berkata, "Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu yang lebih baik dari padanya?"

Maka beliau pun marah sampai berguncang rambut depannya. Lalu beliau berkata, 
"Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik daripadanya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia yang lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain."

Maka aku berkata dalam hati, "Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya."

Ya, pernikahan antara Rasulullah dengan Khadijah berawal dari tawaran seorang wanita yang Allah muliakan, Khadijah. Khadijah menolak untuk menerima pinangan dari para bangsawan pada zaman itu dan lebih memilih seorang yang miskin dan yatim, beliau adalah Rasulullah saw. Keinginan Khadijah memiliki seorang suami yang agung, kuat, berkepribadian tinggi, dan berjiwa bersih, dan itu semua yang menjatuhkan pilihannya kepada Rasulullah, karena kriteria tersebut ada dalam diri Rasulullah.

Ketika hati Khadijah mulai terpikat dengan pesona Rasulullah, maka beliau segera meminta tolong kepada pembantu dekatnya, Maisaroh, untuk memperhatikan segala gerak-gerik Rasulullah. Laporan-laporan yang datang dari Maisarohlah yang membuat Khadijah semakin yakin dan mantap untuk segera menyampaikan "kekaguman"nya terhadap Rasulullah, "Wahai Muhammad, aku senang kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan kejujuran bicaramu."

Setelah Khadijah menyampaikan hal itu, terjadilah proses peminangan. Pada akhirnya mereka menikah  dan Allah memberikan karunia berupa anak yang dinamakan Fathimah Az-zahra, begitu indah namanya. :)

Begitu berat makna pernikahan, temans. Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa pernikahan adalah sebuah Mitsaqan Ghalidza (Perjanjian yang kuat) yang Allah jelaskan langsung dalam surat cintaNYA, Al Qur'an. Begitu beratnya makna Mitsaqan Ghalidza, sehingga di dalam Al Qur'an Allah menyebutkannya hanya 3 kali saja, yaps hanya 3 kali, yaitu pada saat :
1. Allah membuat perjanjian dengan para Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa (QS. Al Ahzab : 7),
2. Allah mengangkat bukit Thur di atas kepala Bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia pada Allah (QS. An Nisaa' : 154), dan
3. Allah menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisaa' : 21)

Lagi-lagi, di sini saya akan tekankan bahwa pernikahan adalah sebuah perjanjian yang kuat, Perjanjian yang kuat di hadapan Allah, temans. Ya, dihadapan Allah! Karena pada saat seorang tengah mengikrarkan ijab-qabul pada saat akad nikah, maka Allah-lah yang secara langsung tengah menjadi saksi atas perjanjian yang bisa mengguncangkan 'arsy itu. Subhanallaah.

Menikah adalah suatu penghormatan yang sangat suci dan islam-pun membolehkan jika ada seorang wanita yang ingin menawarkan dirinya kepada laki-laki yang ia yakini baik agama dan akhlaqnya untuk dijadikan imam dalam sebuah bingkai keluarga. Khadijah adalah teladan pertama bagi para wanita yang bermaksud menawarkan diri. Sikap ini menurut saya adalah sikap terhormat dan mulia.

Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan mujahadah (perjuangan) suci. Tidak peduli tawarannya itu diterima atau ditolak, terutama kalau ia tidak memiliki seorang wali.

Seorang laki-laki insya Allah akan sangat hormat, setia, dan menaruh kasih sayang mendalam jika ia menerima tawaran wanita shalihah untuk menikahi. Kalau terhalang untuk menerima tawaran, insya Allah pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat, segan, dan respek terhadapnya. Maka tetaplah berkhusnudzon. :)

Mungkin kisah-kisah berikut kita bisa jadikan ibroh untuk diri kita. :)
Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. Ada seorang wanita yang datang menawarkan diri kepada Rasulullah Saw. dan berkata, "Ya, Rasulullah! apakah Baginda membutuhkan daku?"
Putri Anas yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, "Alangkah sedikit rasa malunya. Sungguh memalukan, sungguh memalukan."

Anas berkata kepada putrinya itu, "Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada Rasulullah Saw., lalu menawarkan dirinya untuk beliau!" (HR Bukhari).

Orangtua juga bisa mengambil inisiatif untuk menawarkan anak gadisnya kepada laki-laki yang telah dikenal akhlaknya. Umar bin Khaththab r.a., ayah Hafshah, adalah salah satu contoh. Imam Bukhari meriwayatkan, 

Umar bin Khaththab berkata: Saya datang kepada Utsman bin Affan, menawarkan Hafshah kepadanya.

Lalu Utsman berkata, "Nantilah, saya akan pikirkan dulu!" 
Pada waktu itu istri Utsman bin Affan, Sayyidatina Ruqaiyyah binti Rasulullah Saw. meninggal dunia ketika perang Badar berkobar. Dan Utsman diperintahkan oleh Nabi untuk mengurus istrinya. Beberapa malam kemudian, Utsman berjumpa dengan saya dan berkata, “Saya pikir, pada waktu ini saya belum berminat untuk kawin.” 

Setelah itu, saya pergi menawarkan putriku kepada Abu Bakar, "Kalau kau mau, saya akan menikahkan engkau dengan Hafshah!"
Abu Bakar diam dan tidak menjawab tawaran saya. Saya sangat marah dan kurang senang dengan sikapnya yang berbeda dengan Utsman, meski Ustman juga menolak anakku. Beberapa malam kemudian, Hafshah dipinang oleh Rasulullah Saw. Beliau sudah mengobati luka hati saya karena penolakan kedua sahabatku itu. 

Tiba-tiba Abu Bakar datang dan menemuiku sambil berkata, "Mungkin kau marah dan kurang senang kepada saya. Ketika kau menawarkan Hafshah, saya diam dan tidak menjawab sepatah pun!"

Saya jawab, "Ya, benar." 

Lalu Abu Bakar melanjutkan, "Sebenarnya saya ingin sekali menerima tawaranmu itu. Tetapi sebelum engkau menawarkan Hafshah kepadaku, aku sudah mendengar Nabi Saw. menyebut-nyebut untuk meminangnya. Dan aku tidak mau membuka rahasia beliau kepadamu. Namun, jika beliau tidak jadi menikahinya, tentu akan saya terima tawaranmu itu dengan senang hati." (Shahih Bukhari).

Tears banget kisah terakhir, semoga kisah di atas bisa dijadikan ibroh untuk kita semua, terutama untuk para wanita, bahwa menawarkan diri itu bukan sesuatu yang hina kok. Tapi tentunya menawarkan diri juga harus dengan cara yang syar'i dong ya. Ya gak sih? :) Iya aja ya :p

Tulisan ini sepertinya masih akan berlanjut, tapi bisa jadi juga gak berlanjut. Ya terserah saya dong mau dilanjutin atau gak :p Pastinya, semua tergantung mood menulis saya. Jadi mood sayalah yang memutuskan apakah tulisan ini akan berlanjut atau tidaknya. *mulai gak jelas* Anyway, tulisan ini masih saya persembahkan untuk si pipaw yang sedang mempersiapkan dirinya. Semangat persiapkan diri! Yeay! ^^v

Kado Pernikahan Untuk Istriku, #Kupinang Engkau Dengan Hamdalah #1

Ada seorang wanita yang bertanya, "Apa yang menghalangi para ikhwan untuk meminang seorang akhwat? Mengapa ikhwan banyak yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri?"

Ya, ini berawal dari kekhawatiran akhwat tersebut melihat fenomena para akhwat yang belum menikah, sementara usia mereka semakin hari semakin bertambah. Rasulullah saw pernah bertanya, "Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri?"

Apa yang menghalangi kita untuk menikah?
Mengapa terasa berat untuk meminang akhwat kepada keluarganya?
Apa yang menghalangi para ikhwan untuk mempersunting muslimah yang baik agamanya?
Padahal di luar sana, kemaksiatan semakin merajalela.

Shalat orang yang masih belum menikah memang sulit untuk mendapat kekhusyu'an, karena mungkin itu sebabnya Rasulullah saw bersabda, "Shalat dua raka'at yang didirikan oleh orang yang menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa pada siang harinya yang dilakukan oleh seorang bujangan." 

Begitulah, derajat antara orang yang membujang dengan orang yang telah menikah, tidak akan mungkin dapat disamakan. Seorang yang membujang tidak akan menemukan sosok penyejuk hati saat fisik dalam keadaaan lelah, tidak ada sosok yang membantunya untuk meningkatkan derajat takwa kepada Allah, dan hal yang lebih negatifnya adalah seorang yang membujang pikirannya akan disibukkan oleh hal-hal yang kurang maslahat. 

-Semoga Allah menolong orang-orang yang memiliki 'Azzam untuk mencapai pernikahan dan meluruskan niatnya hanya untuk Allah sehingga nantinya akan tercapai pernikahan yang berlimpah kebarakahan dan diliputi bersama dengan keridhaanNYA yang tak terhingga-, aamiin.

Seseorang yang menikah itu artinya telah menyelamatkan setengah dari agamanya. Mari kita renungkan kembali perkataan Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah,
"Tiga orang yang akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah; seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah swt, seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya." (HR. Thabrani)



#Kupinang Engkau Dengan Hamdalah
Ketika niat dan tekad sudah mantap, bersegeralah menyiapkan hati untuk melangkah ke peminangan.
Berikut saya berikan poin-poinnya.

1. Mendahului Dengan Hamdalah
Imam Nawawi berkata dalam Al-Adzkaarun Nawawiyyah, orang yang meminang disunnahkan untuk memulai dengan membaca hamdalah dan shalawat untuk Rasulullah saw,
"Alhamdulillaahirobbil 'aalamiin, Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa ali Muhammad"
Ucapkanlah, minimal shalawat untuk Rasulullah saw, atau boleh juga shalawat yang lebih panjang yang ditunjukkan kepada keluarga beliau, para shabahat beliau, dll. Semoga dengan ini, peminangan akan menjadi barakah. Aamiin yaa robbal 'aalamiin.

Kata Imam Nawawi selanjutnya, di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah, dan yang lainnya meriwayatkan melalui Abu Hurairah ra yang menceritakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda:
“Setiap perkataan --menurut riwayat yang lain setiap perkara-- yang tidak dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya --menurut riwayat yang lain terputus dari kebarakahannya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad, hasan).

Diriwayatkan juga oleh Abu Daud dan Abu Hurairah, kata Ustadz Abdul Hamid Kisyik, dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, 
“Setiap lamaran yang tidak ada syahadat di dalamnya seperti tangan yang tidak membawa berkah.”

Sesudah membaca hamdalah dan shalawat, kemudian ucapkanlah kalimat untuk menyampaikan keinginannya untuk meminang si akhwat tersebut.

Setelah peminangan disampaikan, biarkan keluarga pihak wanita mempertimbangkan. Berbagai macam jawaban yang akan diterima pihak ikhwan, dan pihak ikhwan haruslah mengedepankan sikap khusnudzon kepada keluarga pihak wanita. Bukankah ketika seorang lelaki meminang seorang wanita, berarti dia mempercayai wanita yang ia harapkan beserta dengan keluarganya? Disinilah kita akan belajar sikap tawakkal. Serahkanlah semua urusan kita hanya kepada Allah semata. 

Seorang lelaki yang telah meminang seorang wanita dengan hamdalah, berarti dia telah dimampukan oleh Allah yang Maha Besar untuk datang meminang kepada wanita tersebut. Jadi, besarkanlah Allah di hati kita karena kita hanyalah makhluk yang amat kecil dihadapanNYA. Tak bolehlah kita merasa ujub dan takabbur karena telah berhasil datang meminag kepada seorang wanita. Jauhi sikap itu, besarkanlah Tuhan kita, Allah azza wa jalla.

Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan Rasulullah saw tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan:
“Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budak-budak belian, kemudian Allah memerdekakan...,” kata Bilal. 
Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan ucapan Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Dan kalau Anda menolak, maka kami mengucapkan Allahu Akbar. Allah Maha Besar.” Menurut pandangan Bilal, jika pinangan diterima, maka hanya Allah yang berhak dan layak dipuji. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Pujian dalam segala bentuknya. 

Peminangan pun insya-Allah merupakan sebentuk pujian kepada-Nya dengan menjaga kehormatan atas apa yang dikaruniakan kepada kita. Ya betul jika seseorang ada yang bilang, peminangan adalah bentuk ikhtiar untuk mengagungkan Allah. Kita berusaha mengagungkan Allah dengan berusaha menghalalkan karunia Allah yaitu cinta kepada lawan jenis melalui ikatan pernikahan yang sering kita sebut dengan Mitsaqan Ghalidza (Perjanjian yang Kuat). Jadi, jika diterima pinangannya, maka ucapkanlah hamdalah (Alhamdulillah). Namun, jika ditolak, maka ucapkanlah takbir (Allahu Akbar). Dalam kondisi diterima atau ditolak, kita tetap mengagungkan Allah.

Karena, boleh jadi penolakan adalah salah satu jalan untuk bisa lebih mencapai kematangan, kejernihan niat, kemapanan, dan yang lainnya. Oleh karena itu, tetaplah berkhusnudzon kepada Allah. Penolakan juga bisa saja merupakan cara Allah untuk meluruskan niat dan orientasi kita. Kecewa? Pasti! Itu wajar, manusiawi! Tapi jangan berlarut, mulailah kembali menyusun puzzle-puzzle dan meletakkan puzzle-puzzle itu pada tempat yang tepat. Ya, luruskanlah niat kita kembali.

Mungkin perumpamaan ini bisa dijadikan ibroh untuk kita semua,
"Perahu telah berlayar. Ketika angin bertiup kencang, matikan mesin. Itulah Tawakkal."

Tetapi, jika jawaban dari keluarga pihak wanita sesuai harapan, bersyukurlah kepada Allah. Tunggu dan bersabarlah, akan tiba masanya, halal bagi kita untuk melakukan apa-apa yang diharamkan oleh Allah sebelumnya. Itulah indahnya pernikahan yang berlimpah barakah. Rasakanlah kehangatan cinta yang hadir nantinya, kehangatan yang muncul dari cinta seorang wanita yang telah mempercayakan kesetiannya kepada seorang Imam-nya. Melalui pernikahan, kita akan menemukan keindahan dan kemuliaan, Insya Allah. Tapi di saat menunggu hari bahagia itu, inilah saatnya kembali untuk menata hati agar tidak melampaui batas dan masih terjaga dalam jalur-jalur yang diridhoi olehNYA.

Semoga kalimat penutup tulisan ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua, :)

... jika sikap menawarkan diri
dilakukan dengan ketinggian sopan-santun,
tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam
pasti akan meninggikan penghormatan
terhadap mujahadah saudaranya.
Tidak akan merendahkan
wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini,
kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan ....

__________________________________
Tulisan ini saya ambil dari buku, "Kado Pernikahan untuk Istriku", karya ust. Mohammad Fauzil Adhim dengan penambahan-penambahan kata di dalamnya. Semoga bermanfaat yaa dan selamat menikmati hidangan tulisan saya. Edisi ini spesial saya tulis untuk Alin, karena beberapa pekan lalu saya janji membuat resume seminar pra nikah di kampus ke Alin, tetapi saya belum sempat menulisnya di blog tercinta ini. Hehe. 
Alin, wait yaa. Aku masih menunggu saat yang tepat untuk menuliskannya spesial untukmu pipaw.. :p
Tulisan ini masih to be continued ya, temans. Mata saya mungkin sudah lelah, saya tiba-tiba merindukan kasur, bantal, dan guling saya. hihi. For the last, Enjoy My Site! :)

Pengalaman Adalah Guru Yang Paling Baik

Temans, sudah hampir dua pekan saya bergabung di group #OneDayOneJuz523. Selama itu pula saya diamanahkan menjadi PJ Group. Berat, temans amanah ini. Setiap hari di jam-jam 19.00-21.00 itu selalu dalam kondisi riweuh, mengkondisikan para anggota yang lain untuk memastikan bahwa tilawahnya harus kholas sebelum jam 21.00. Disinilah kesabaran para PJ Group dan PJ harian di uji. Subhanallaah, di samping itu banyak ibroh yang bisa saya jadikan pelajaran.

Seperti saat ini, detik ini, saya sedang kepo dengan kisah salah satu anggota group, sedang japri-an di group. Hihi. Saya memanggil beliau dengan sebutan "teteh", karena beliau berasal dari Karawang. Awalnya saya hanya menjalankan amanah, japri ke beliau untuk memberikan jobdesc PJ harian (karena beliau kebagian tugas menjadi PJ Harian untuk 2 hari ke depan), memberikan semangat juga ke beliau, aahh pokoknya apapun deh di share di japri-an itu. Nah, cerita setelah ini nih yang seru. Tapi, mata saya sudah rada ngantuk. Sepertinya, saya mau lanjut dulu japri-an sama si teteh. :D

Kalaupun sempat, mungkin saya akan post tulisan saya berikutnya mengenai serba-serbi di #OneDayOneJuz523. Selamat Istirahat ya, temans. ^_^

Tuntunan agar Si Kecil Pandai Berinteraksi Sosial

Si kecil si buah hati hadir di tengah kita. Dari alam kesendirian ia datang ke dunia, untuk hidup dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita pasti mengharapkan buah hati kita bisa hidup dalam tatanan masyarakat secara serasi dan seimbang, pandai berhubungan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, jauh dari sikap individualistis dan mengasingkan diri dari pergaulan.
Agar si kecil pandai berinteraksi sosial, mari kita melihat petunjuk dan wejangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta contoh dan teladan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, yang mengajarkan kepada kita cara mendidik anak dalam bergaul di masyarakat.

1. Membawa anak menghadiri majelis orang dewasa
Di antara kebiasaan para shahabat radhiyallahu ‘anhum: seorang ayah membawa anaknya ke majelis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Rasulullah bersama anaknya, Abdullah.
أَخْبِرُونِى بِشَجَرَةٍ مَثَلُهَا كمَثَلُ الْمُسْلِمِ، تُؤْتِى أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ، بِإِذْنِ رَبِّهَا، وَلا تَحُتُّ وَرَقَهَا. (قال ابن عمر) فَوَقَعَ فِى نَفْسِى أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ وَثَمَّ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Ibnu umar berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pohon apa yang perumpamaannya seperti seorang muslim; memberi manfaat kepada orang lain dan tidak gugur daun-daunnya?’” Ibnu Umar berkata, “Terbersit di hatiku bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tapi aku tidak senang berbicara mendahului Abu Bakar dan Umar.” (HR. Bukhari, no. 148)

Dengan membawa si kecil ke majelis orang tua, akan tampak kekurangan dan kebutuhan kita dalam mentarbiyah anak. Ini menjadi motivasi bagi orang tua untuk lebih meningkatkan usahanya dalam mencapai kesempurnaan.

Dengan hadirnya mereka di majelis, kita mendorong mereka ikut menjawab pertanyaan yang diberikan di majelis. Anak akan belajar cara berbicara setelah diizinkan dengan tenang dan penuh adab. Dengan demikian, pikirannya akan berkembang dan jiwanya pun beradab. Mereka belajar tentang pembicaraan orang dewasa sedikit demi sedikit, sampai akhirnya siap terjun ke masyarakat.

2. Menyuruhnya untuk suatu keperluan
Seorang anak yang kita beri kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu akan merasa senang karena dihargai. Selain itu, rasa percaya dirinya akan tumbuh sejak kecil. Ia akan berkenalan dengan hal-hal yang semula tidak diketahuinya. Alhasil, pada masa mendatang ia sanggup melakukan tugas tersebut karena sudah mempunyai pengalaman sebelumnya semasa kecil.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pekerjaan itu selesai. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidur sebentar, sehingga saya keluar ke tempat anak anak yang sedang bermain. Saya mendatangi mereka untuk melihat permainan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan memberi salam kepada anak-anak yang bermain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku dan mengutusku untuk suatu keperluan. Saya melaksanakan perintahnya.” (HR. Ahmad, no. 13022)

Contoh perintah yang bisa kita jadikan ajang latihan bagi anak adalah meletakkan makanan di meja. Hal ini agar mereka ikut berpartisipasi membantu orang tuanya dalam bekerja. Tugas-tugas yang kita berikan tidak akan pernah dilupakan si kecil dan dia akan bercerita tentangnya ketika mereka besar kelak.

Dengannya, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang amanah dan peduli dengan orang lain. Apalagi jika mereka berhasil melaksanakan tugas dengan baik, kita memujinya sebagai bentuk penghargaan kita dan kasih sayang kita kepadanya.

3. Membiasakannya mengucapkan salam
Salam adalah tahiyat, yaitu salam penghormatan di antara kaum muslimin. Anak kita senantiasa bertemu dan bergaul dengan teman-temannya dari berbagai kalangan masyarakat. Hal ini menuntut kita untuk mengajarkan kepada mereka kata pembuka yang harus mereka ucapkan .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan cara yang lembut dalam mengajarkan sunnah salam kepada anak-anak. Caranya, kita terlebih dulu yang memberikan salam kepada mereka sampai mereka terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, mereka yang akan memulai duluan.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melewati anak-anak. Dia mengucapkan salam kepada mereka. Dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari, no. 17)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Ucapan salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak menunjukkan ketawadhuan, akhlak yang agung, dan sifat beliau yang mulia. Hal tersebut juga merupakan pembiasaan terhadap sunnah dan melatih anak-anak dengan adab yang mulia, sehingga jika mereka baligh nanti akan mereka akan beradab dengan adab Islam.” (Syarah Shahih Al-Bukhari, 9:27)

4. Memilihkan teman pergaulan yang baik baginya
Sudah menjadi fitrah manusia hidup bercampur dengan manusia yang lain dan saling membutuhkan satu sama lain. Begitu pula halnya dengan seorang anak; ia butuh teman yang dekat dengannya, teman bermain, teman belajar, atau teman untuk melewati lika-liku masa kecil bersama.

Orang tua yang cerdik akan memilih teman terbaik buat anaknya, karena hakikatnya ia telah membuka pintu tarbiyah dalam memperbaiki anaknya. Seorang teman yang shalih akan membantu anaknya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengajarkannya akhlak mulia.

Mari kita lihat kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bemain bersama teman-temannya semasa kecilnya, dan beliau melewati anak-anak yang sedang bermain sementara beliau adalah seorang rasul utusan Allah. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, lembut kepada mereka, dan melihat mereka bermain bersama-sama, namun tidak mengusir dan tidak melarang mereka. Semua ini menunjukkan semangat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar seorang anak hidup bermasyarakat bersama anak lain serta menjauhi sikap individualistis.

5. Membawanya ke acara-acara yang tidak melanggar syariat
Di acara pesta akan berkumpul banyak orang, anak-anak akan berkumpul dan saling berkenalan. Mereka akan menyaksikan orang tua dan anak-anak bergembira bersama, mendengarkan pembicaraan mereka, dan menyaksikan acara pesta yang indah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hadirnya anak-anak di acara pernikahan. Beliau membolehkannya serta menyambut kedatangan mereka, dan tidak mengingkarinya. Beliau mendoakan kebaikan untuk seluruh orang yang hadir, termasuk juga untuk anak-anak.

6. Bermalam di rumah kerabat yang shalih
Ketika anak keluar dari rumahnya menuju rumah sepupu atau paman atau kakeknya – yang merupakan keluarga islami – maka itu merupakan bentuk latihan bagi sang anak dalam bergaul dengan keluarga yang lain selain ibu, bapak, dan saudaranya. Mereka akan mengambil faedah dari keshalihan kerabatnya itu, berupa ilmu, ketakwaan, dan ibadah.

Hal ini akan menambah rasa cinta dengan keluarga serta membawa pengaruh yang baik jika si anak besar nanti. Anak tersebut akan mengingat masa bermalamnya bersama sang sepupu atau bersama sang kakek, dan ia diajak untuk beribadah bersama mereka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah binti Al-Harits, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari, no. 53)

Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajarkan kepada para anak untuk bersemangat bemalam di rumah kerabatnya yang shalih serta mengambil faedah dari mereka. Wallahu a’lam.

Maraji’:
  • Syarah Shahih Al-Bukhari, Imam Ibnu Baththal.
  • At-Tarbiyah Nabawiyah lit Thifl, Muhammad bin Nur bin Abdul Hafizh.
sumber : muslimah.or.id

Dalam Dekapan Pembantu

Ini merupakan salah satu uneg-uneg saya sebagai pengajar. Mungkin teman-teman pengajar pernah melihat sendiri hal ini. Tulisan ini menggambarkan salah satu isi hati saya sejak lama.
"Kenapa kok usia anak-anak untuk mengaji aja harus manggil guru ngaji ke rumah?"
"Apakah orang tua mereka tak cukup mempunyai banyak waktu untuk meluangkan waktu sedikiitt saja sekadar mendidik anak-anaknya."
Aduhai...temans, para orang tua dan calon orang tua, sungguh pendidikan utama dimulai dari orang tua. Ayoo bekali diri dengan ilmu sejak dini! Semua belum terlambat, temans! Belum terlambat!
Islamedia -Tertarik untuk mengamati gejala sebagian pasangan muda di Jakarta, dengan berfikir praktis didukung kemampuan ekonomi, ketika mempunyai anak, maka langkah awal yang dilakukan adalah mencari baby sitter dan pembantu, padahal tidaklah mudah mendapatkan baby sitter, dan dibutuhkan merogoh kantong sampai jutaan rupiah untuk mendapatkan baby sitter.

Masalahnya, bukan berapa uang yang dikeluarkan oleh pasangan muda untuk mendapatkan baby sitter tersebut, namun adakah dampak psikologis terhadap anak-anak pasangan muda, jika sehari-hari anak-anak lebih banyak bersama sang pembantu?
 
Topik ini bisa debatable, karena tentunya pasangan muda mempunyai alasan dalam memutuskan me-rekrut baby sitter dan pembantu ke wilayah domestik mereka. Salah satu alasannya adalah karena suami istri bekerja, lingkungan eksternal yang semakin menantang seperti macet, membentuk pola berangkat pagi-pagi dan pulang sudah malam.
 
Sementara keluarga bisa jadi diluar kota, maka tidak banyak pilihan, selain merekrut baby sitter dan pembantu. Alasan lain, memberikan waktu yang cukup kepada pasangan untuk aktualisasi diri, tidak perlu direpotkan urusan domestik berupa mengasuh anak, memasak, mencuci, membersihkan rumah.
 
Bisa juga, berupa mulai abainya peran, terhadap kasih sayang, dan rasa terhadap anak. Pemenuhan kebutuhan terhadap anak-anak tereduksi dengan memberikan fasilitas yang cukup bahkan melebihi kebutuhan, seperti mainan, liburan, fasilitas antar jemput, bahkan driver sendiri untuk anak-anak.
 
Apakah ini baik terhadap tumbuh kembang anak, jangka pendek ataupun jangka panjang?
Apakah tidak ada kekhawatiran, sebagian besar hari, anak-anak bersama baby sitter dan pembantu?
Bukankah memandikan anak, mencebok anak, mengendong anak, mencuci pakaiannya, membacakan cerita, mendengarkan celotehan dan keluh kesahnya juga bagian dari pembentukan karakter anak?
 
Tidakkah miris, melihat anak-anaknya lebih sering digendong dan didekap oleh baby sitter dan pembantu dibanding orang tuanya?
 
Apakah tidak khawatir, kitalah orang tua biologis anak-anak tersebut, tapi baby sitter dan pembantulah orang tua psikologis anak-anak kita?
 
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa dibangun.
 
Ada baiknya, kita merenung dan bertanya kepada diri, apa yang kita rasakan jika anak-anak tersebut adalah diri kita?, apa yang kita rasakan jika dulu kita tidak pernah diantar oleh orang tua ke sekolah, karena sudah digantikan pak sopir, kita tidak pernah dijemput oleh orang tua kita ke sekolah, ke tempat les, ke tempat olah raga, karena peran itu telah digantikan oleh sopir.
 
Kita tidak pernah diajarkan sholat, diajak sholat ke masjid dan mengaji oleh orang tua kita, peran inipun saat ini , sudah digantikan oleh guru mengaji atau sekolahnya.

Saat yang sama, terbangun fungsi orang tua adalah mencari penghasilan sebanyak-banyaknya , agar bisa memberikan fasilitas terbaik , mulai dari sekolah terbaik dan mahal, mainan, liburan, mobil dan sopir pribadi.
Lingkungan, memang terus berubah, nilai bisa jadi bergeser, namun kebenaran tidak akan pernah hilang, bertanyalah ke hati yang tidak pernah berbohong, cara seperti itukah yang terbaik untuk keluarga kita. Semoga tidak lahir generasi dekapan pembantu.

Jakarta, 29 Oktober 2013
Sumber : Islamedia

Sudahkan Allah Ridha atas Setiap Pekerjaan yang Kita Lakukan?

Menikmati Kerja-


Jika bekerja hanya untuk mendapatkan uang, maka tingginya jenjang pendidikan justru menyulitkan ridha terhadap takdir atas rezeki. Jika bekerja hanya untuk mengejar uang, maka akan sulit berserius memeras keringat mencari ridha Allah Ta'ala melalui kesungguhan bekerja.

"Gaji dokter tidak ada separonya pendapatan pengemis yang 25 juta," protes seseorang. Tetapi ia lupa bahwa pengemis tidak digaji. Ia mendapatkan itu karena buka praktek. Dokter pun kalau buka praktek dapat memperoleh penghasilan di luar gaji dan boleh jadi melebihi penghasilan pengemis. Itu pun kita perlu bertanya, apakah setiap pengemis memperoleh penghasilan sebanyak itu? Apakah itu penghasilan per bulan?

Saya tentu saja sangat tidak setuju dengan profesi pengemis. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk mengingat kembali, apakah yang sungguh-sungguh kita cari dari bekerja? Jika hanya untuk mencari uang semata, mengapa harus kuliah hingga S-3? Jika hanya uang urusan kita, tenaga terkuras, waktu tersita, pahala tiada, tidak pula dapat menikmati kerja.
 

Refleksi Pangrango 3.019 MDPL (25-27 Oktober 2013)

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…” (QS. Al Anbiya : 31) 

"Bukankan telah Kami jadikan bumi sebagai hamparan. Dan Kami jadikan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS. An Naba' : 6-7)

Pendakian bukan hanya mengenai proses menaklukkan sebuah gunung.
Pendakian juga bukan merupakan alat untuk menyombongkan diri bahwa kitalah yang lebih tinggi.
Pendakian adalah proses bagaimana kita berusaha lebih dekat dengan Allah.
Pendakian adalah proses men-tafakkuri seluruh nikmat Alam Semesta yang telah diberikan oleh Allah.
Semakin terasa betapa kita amat kecil dihadapanNYA.
Sepatutnya kita mensyukuri dan men-tafakkuri seluruh nikmatNya.

Melalui do'a-do'a dan sujud-sujud panjang kita.
Melalui kebersamaan kita lewat ukhuwah yang terasa kian merekat kuat.
Melalui hujan yang menambah kelengkapan nikmatnya perjalanan.

Sejenak kupejamkan mata.
Merenungi pesona alam zamrud khatulistiwa.
Desiran angin yang berirama di pegunungan.
Gemericik air yang mengalir syahdu mengikuti arus.
Gunung-gunung yang menjulang tinggi nan berdiri kokoh memecah langit.
Matahari yang menampakkan pesona sinarnya disaat fajar menyapa. 
Awan cantik yang bergumpal dengan indahnya.
Edelweiss yang akan abadi dalam penjagaanNya.

"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar Rahman : 13)

Summit of Pangrango Mt 3.019 mdpl

Memperbarui #Niat

Apa sih yang paling terpenting dalam setiap ibadah? jawabannya adalah NIAT. sudahkah kita meluruskan niat kita di setiap ibadah2 kita?

1. Niat adalah awal dari setiap ibadah dan segala amal perbuatan itu tergantung dgn niatnya.
2. Niat berbanding lurus dgn keikhlasannya. Jd, jk niat sdh benar,rasa ikhlas harus menyertai niat kita. Ikhlaslah beribadah karnaNYA.
3. Niat yg sdh terlaksana dlm bentuk amal perbuatan yg disertai keikhlasan, akan lbh sempurna pahalanya.
4. Tmn2 harus tau, ternyata niat itu juga adlh bentuk orientasi seluruh amalan dlm islam dan mencakup 1/2 ajaran islam lho :)
5. Salah satu syarat ibadah adalah niat, setuju gak? :D Nah, niat ini adlh sebagai pembeda antara ibadah yg 1 dg ibadah yg lainnya.
6. Di mana sih tempatnya niat? | niat itu ada di dalam hati. Ada gak yang di dalam jantung? :D *abaikan -_-
7. Kapan waktu yg tepat utk memulai niat itu? | mulainya ya pasti saat awal ibadah dong ya. ^^
8. Allah tuh bnr2 baikkk banget | ssorg yg sdh melakukan niat tp karna udzur tdk bs melaksanakannya, maka sdh dihitung 1 pahala #niat
9. Nih ada rumus niat yg akan mimin share | niat + amal = pahala | amal - niat = sia2 | aduh, rumus macam mana itu :D
10. Ok2 mimin akan jelasin singkat ya :) Jadi, jk kita sdh niat dan kita sdh lakukan dlm bentuk amal, kita akan mendapat pahala. :')
11. Nah, kalau kita sdh beramal tanpa diawali niat, ini gak berbuah pahala. lha wong ibadah kan hrs diawali dgn niat dulu. -_-
12. Biar lbh gampang, coba kita ibaratkan niat itu adlh ruh, dan ibadah adalah jasadnya. Coba semuanya dibayangkan ya. :D
13. nah jk kita sdh punya ruh & jasad, lengkap gak sih rasanya? pastinya lengkap dong, mau ngapa2in jd mudah. Ya gak? iya aja ya :D