Ini merupakan salah satu uneg-uneg saya sebagai pengajar. Mungkin teman-teman pengajar pernah melihat sendiri hal ini. Tulisan ini menggambarkan salah satu isi hati saya sejak lama.
"Kenapa kok usia anak-anak untuk mengaji aja harus manggil guru ngaji ke rumah?"
"Apakah orang tua mereka tak cukup mempunyai banyak waktu untuk meluangkan waktu sedikiitt saja sekadar mendidik anak-anaknya."
Aduhai...temans, para orang tua dan calon orang tua, sungguh pendidikan utama dimulai dari orang tua. Ayoo bekali diri dengan ilmu sejak dini! Semua belum terlambat, temans! Belum terlambat!
Islamedia
-Tertarik untuk mengamati gejala sebagian pasangan muda di Jakarta,
dengan berfikir praktis didukung kemampuan ekonomi, ketika mempunyai
anak, maka langkah awal yang dilakukan adalah mencari baby sitter dan
pembantu, padahal tidaklah mudah mendapatkan baby sitter, dan dibutuhkan
merogoh kantong sampai jutaan rupiah untuk mendapatkan baby sitter.
Masalahnya, bukan berapa uang yang dikeluarkan oleh pasangan muda untuk mendapatkan baby sitter tersebut, namun adakah dampak psikologis terhadap anak-anak pasangan muda, jika sehari-hari anak-anak lebih banyak bersama sang pembantu?
Topik ini bisa debatable, karena
tentunya pasangan muda mempunyai alasan dalam memutuskan me-rekrut baby
sitter dan pembantu ke wilayah domestik mereka. Salah satu alasannya
adalah karena suami istri bekerja, lingkungan eksternal yang semakin
menantang seperti macet, membentuk pola berangkat pagi-pagi dan pulang
sudah malam.
Sementara keluarga bisa jadi diluar
kota, maka tidak banyak pilihan, selain merekrut baby sitter dan
pembantu. Alasan lain, memberikan waktu yang cukup kepada pasangan untuk
aktualisasi diri, tidak perlu direpotkan urusan domestik berupa
mengasuh anak, memasak, mencuci, membersihkan rumah.
Bisa juga, berupa mulai abainya peran,
terhadap kasih sayang, dan rasa terhadap anak. Pemenuhan kebutuhan
terhadap anak-anak tereduksi dengan memberikan fasilitas yang cukup
bahkan melebihi kebutuhan, seperti mainan, liburan, fasilitas antar
jemput, bahkan driver sendiri untuk anak-anak.
Apakah ini baik terhadap tumbuh kembang anak, jangka pendek ataupun jangka panjang?
Apakah tidak ada kekhawatiran, sebagian besar hari, anak-anak bersama baby sitter dan pembantu?
Bukankah memandikan anak, mencebok anak, mengendong anak, mencuci pakaiannya, membacakan cerita, mendengarkan celotehan dan keluh kesahnya juga bagian dari pembentukan karakter anak?
Apakah tidak ada kekhawatiran, sebagian besar hari, anak-anak bersama baby sitter dan pembantu?
Bukankah memandikan anak, mencebok anak, mengendong anak, mencuci pakaiannya, membacakan cerita, mendengarkan celotehan dan keluh kesahnya juga bagian dari pembentukan karakter anak?
Tidakkah miris, melihat anak-anaknya lebih sering digendong dan didekap oleh baby sitter dan pembantu dibanding orang tuanya?
Apakah tidak khawatir, kitalah orang tua
biologis anak-anak tersebut, tapi baby sitter dan pembantulah orang tua
psikologis anak-anak kita?
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa dibangun.
Ada baiknya, kita merenung dan bertanya
kepada diri, apa yang kita rasakan jika anak-anak tersebut adalah diri
kita?, apa yang kita rasakan jika dulu kita tidak pernah diantar oleh
orang tua ke sekolah, karena sudah digantikan pak sopir, kita tidak
pernah dijemput oleh orang tua kita ke sekolah, ke tempat les, ke tempat
olah raga, karena peran itu telah digantikan oleh sopir.
Kita tidak pernah diajarkan sholat,
diajak sholat ke masjid dan mengaji oleh orang tua kita, peran inipun
saat ini , sudah digantikan oleh guru mengaji atau sekolahnya.
Saat yang sama, terbangun fungsi orang tua adalah mencari penghasilan sebanyak-banyaknya , agar bisa memberikan fasilitas terbaik , mulai dari sekolah terbaik dan mahal, mainan, liburan, mobil dan sopir pribadi.
Lingkungan, memang terus berubah, nilai bisa jadi bergeser, namun kebenaran tidak akan pernah hilang, bertanyalah ke hati yang tidak pernah berbohong, cara seperti itukah yang terbaik untuk keluarga kita. Semoga tidak lahir generasi dekapan pembantu.
Jakarta, 29 Oktober 2013
Sumber : Islamedia