RSS

Labbaik...Yuk Sambut Panggilan Selagi Luang

Rumah petak itu kecil, kurang lebih ukuran tiga kali enam persegi. Terletak di dekat kantor, dihuni oleh pasangan muda yang belum memiliki putra, Mas Heru dan Mbak Ida. Rumah petak yang sangat sederhana, dan pada waktu musim hujan sering terkena banjir.
Tapi hari itu, rumah mbak Ida cukup sesak dipenuhi tamu para ibu muda. Ada apakah gerangan? Rupanya mbak Ida mengadakan pengajian sederhana, walimatus safar, terkait dengan rencana keberangkatannya untuk berhaji ke tanah suci dengan suaminya. Aku termasuk salah satu diantara tamu yang hadir. Sebagai sahabat juga adik angkatan, aku memutuskan untuk pulang belakangan. Hingga akhirnya tinggallah mbak Ida dan aku saja.
Sambil membereskan ruangan usai pengajian, kutanya mbak Ida, “Mbak, nabungnya mulai kapan sih? Kok bisa berangkat tahun ini sama Mas Heru? Ngajak ibu di kampung pula”.
“Sejak awal nikah Ning. Memang harus diniatkan begitu, dicicil sedikit-sedikit dan berazzam semoga bisa berhaji saat umur belum terlalu tua. Kenapa Ning?”
“He. Enggak. Aku kagum aja. Habis mbak kan masih tinggal di rumah petak begini, ngontrak pula. Sering kebanjiran juga. Gak punya motor, apalagi mobil. Eh tahu-tahu aku denger kabar mau berangkat haji, kan kaget,” jawabku terus terang.
Dia tersenyum, lalu menjelaskan, “Ya gimana ya? Ini sudah cita-citaku dan mas Heru sejak awal. Meski kami belum punya rumah, pokoknya diusahakan rukun Islam kelima itu sah dulu. Mumpung kami masih kuat, masih ada umur. Memang sih, tetangga-tetangga sini juga pada heran kok Ning, tapi akhirnya mereka maklum”.
Subhanallah, aku terharu mendengarnya. Seolah ini membalikkan paradigma awalku bahwa pemenuhan kebutuhan primer itu (pangan,sandang, papan), untuk papan ya harus memiliki rumah, baru dikategorikan mampu berhaji. Ah, ternyata tidak harus begitu ya? Menyediakan rumah petak untuk kontrakan pun, sudah termasuk pemenuhan kebutuhan papan. Duh, salah dong pola pikirku selama ini.
“Terus, cara nabungnya gimana mbak? Seadanya duit gitu?” tanyaku lebih lanjut, makin tertarik untuk meniru. Siapa tahu ...
“Wah, ya jangan seadanya duit Ning, entar gak pernah diisi lagi tabungannya. Harus direncanakan, kayak orang kredit barang itu lho, pakai tabungan berjangka. Biar ketahuan juga kan, kalau nabungnya misal tiga ratus ribu sebulan, berarti sekian tahun lagi insya Allah cukup untuk biaya haji,” urai mbak Ida.
“Terus, target tabungan bulanan itu berhasil ditepati terus, mbak?” kejarku, makin penasaran.
“Iya, Alhamdulillah. Memang sih ada yang harus dikorbankan. Menyederhanakan menu makanan sehari-hari, misalnya. Ibaratnya, gakpapa lah tiap hari kami makan tempe asal bisa segera berhaji. Kan gak ada sejarahnya juga orang yang mati gara-gara kebanyakan makan tempe. He,” kata mbak Ida bercanda.
Haha jadi ingat suamiku yang juga sangat hobi makan tempe :D
“Terus apa lagi mbak?”
“Intinya, mesti agak ‘merem’ dengan kebutuhan yang lain, kecuali sangat perlu. Baju-baju, jilbab, gak usahlah koleksi banyak-banyak. Pergi-pergi jauh juga dipilih benar. Motor? Lah kantor suami kita kan dekat, ibaratnya kepleset juga nyampek. Belum perlu beli lah,” urainya lagi.
Duh duh, hebat benar ya mereka. Aku sungguh salut! Tentu sangat berbahagia jika bisa berhaji selagi muda dan kuat. Melaksanakan kewajiban kita yang kelima sebagai umat Islam, ibadah haji yang memang membutuhkan stamina fisik prima. Kebayang kalau baru bisa berhaji saat sudah renta, ruang gerak selama di sana tentu terbatas. Ibadah pun jadi kurang optimal.
Obrolan dengan mbak Ida itu sangat mengusik perhatianku. Sampai di rumah (kontrakanku), aku langsung membuka diskusi dengan suami. Kebetulan waktu itu kami baru menikah. Rasanya sungguh ingin meniru cara mbak Ida dan Mas Heru. Bla bla bla, dengan penuh semangat aku bercerita di depan suamiku.
Suamiku juga terkesima mendengar ceritaku, dan dia setuju untuk mulai merencanakan dengan matang kapan harus berhaji. Biarlah rumah masih ngontrak, motor juga motor dinas dari kantor. Yang penting beres dulu urusan kewajiban yang satu ini. Kalau nanti saatnya uang cukup terkumpul untuk berangkat haji dan anak-anak masih kecil, ya gakpapa. Memang harus memilih, harus tega ninggalin mereka barang 40 hari. Toh ada orang-orang terpercaya yang bisa dititipi.
Menunggu anak-anak agak besar? Memang secara perhatian fisik dan mental tidak terlalu merepotkan lagi, tapi secara finansial bakal banyak terserap untuk dana pendidikan mereka. Bisa-bisa malah mundur lagi rencana berhaji.
Atau menunggu anak-anak semuanya sudah mandiri dan berpenghidupan? Waduh, keburu kami orang tuanya yang sudah tua renta, makin payah untuk beribadah haji yang jelas-jelas membutuhkan ketahahan fisik tinggi.
Okay, Bismillah aja, buka tabungan haji :)
Alhamdulillah, faidza ‘azamta fatawakkal ’alaL-Lah. Jika niat sudah tertancap kuat, insya Allah akan dimudahkan. Lima tahun sejak pencanangan niat itu, dana haji yang kami tabung cukup untuk berangkat. Tadinya dana haji tersebut hanya cukup untuk dua orang. Waktu itu, aku dan suami agak bingung, siapa yang seharusnya berangkat haji duluan? Habis gimana? Dananya cuma cukup untuk berdua. Sementara ibuku dan ibu mertua belum berhaji (kalau bapakku dan bapak mertua sudah, Alhamdulillah). Sehingga suami juga kepikiran untuk mengajak ibu kandungnya.
Aku dan suami sempat menanyakan ke ustadz yang paham soal fiqh, siapa seharusnya yang berangkat lebih dulu, suami dan aku, atau mertua/orang tua yang belum berhaji. Karena setahu kami, untuk ibadah, apalagi yang fardhu ’ain, tidak ada itsar. Jawabannya ternyata karena melihat faktor fisik, diutamakan orang tua dulu, dengan asumsi untuk yang muda bisa mencari sumber dana lagi. Okay, berarti suamiku dan ibu mertua yang bisa berangkat lebih dulu.
Tapi namanya rizki dari Allah, ada saja datangnya tanpa diduga. Tiba-tiba ada rejeki nomplok, hasil pesanan program IT yang dihargai cukup tinggi, sehingga bisa membiayai haji satu orang lagi. Jadi ada dana untuk haji bertiga. Alhamdulillah, ibu kandungku pun bisa diajak serta berhaji, bersama suami dan ibu mertua. Akhirnya, berangkatlah suami beserta ibunya dan ibuku, sengaja mendaftar dari kampung halaman untuk memudahkan mengawal para ibu kami.
Aku sendiri baru bisa berangkat berhaji dua tahun setelahnya. Sebenarnya, selang dua bulan dari fiksasi kuota mereka bertiga, ada dana haji untuk satu orang lagi, yang bisa kugunakan untuk mendaftar haji. Benar-benar rizqum minal-Lah yang sungguh tak pernah kami sangka sebelumnya! Tapi ternyata aku masuk waiting list, tidak bisa berangkat di tahun yang sama dengan suami dan ibu. Ya sudah, tak mengapa, yang penting kewajiban haji tunai sudah.
Waktu suami akan berangkat haji itu, kami memang sudah menempati rumah milik sendiri. Hanya rumah sederhana di pinggir gang sempit yang tidak dapat dimasuki mobil. Tapi Alhamdulillah, hitungannya sudah ada rumah permanen untuk tempat berteduh, gak pindah-pindah melulu sebagai kontraktor.
Lucunya, beberapa tetangga sekitar rumahku yang tahu suamiku akan pergi berhaji bertanya kepadaku, ”Pak Zuba dibiayai kantor ya Mbak, hajinya?”
Ada juga yang bertanya, ”Oh dapet sponsor dari perusahaan ya? Namanya juga kerja di b****k**?”
Halah halah, aneh-aneh juga nih pertanyaan. Mungkin para tetangga bingung kali ya, karena standar ’mampu berhaji’ secara umum ya biasanya punya rumah mewah magrong-magrong, terus anaknya sudah pada mentas semua. Lah ini, rumah cuma nyempil di gang sempit, kursi tamu aja gak punya, anak-anak baru dua batita semua, dapet duit darimana untuk pergi berhaji?
Untung mereka tahunya cuma suamiku yang berangkat. Kalau tahu suami juga memberangkatkan ibu-ibu kami, apa komentarnya ya kira-kira? Haduh, semoga jangan dikira korupsi saja :(
Alhamdulilah, ini namanya niat dan doa yg diijabah oleh Allah.
Jadi ingat fenomena di kampung, sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Banyak orang kampung yang berduyun-duyun pergi berhaji ke tanah suci, dengan menjual sawah atau ladangnya. Bagaimana dengan rumah mereka? Biasa saja. Malah beberapa ada yang masih berdinding bambu. Tapi, kesadaran mereka untuk mengorbankan sebagian hartanya dalam rangka pemenuhan kewajiban haji sangat tinggi. Rela menjual, kadang sebagian besar sawahnya untuk itu. Alasannya sangat logis, umur makin beranjak tua, sementara rizki bisa dicari lagi nanti.
Tapi fenomena sekarang, kok agak lain ya? Orang bisa kredit mobil ratusan juta, atau beli barang mewah lain yang harganya puluhan juta sekali jreng. Tapi kok belum berangkat haji ya? Padahal untuk ONH kan gak sampai 40 juta, dan bisa dikredit/dicicil juga kok sebenarnya. Sementara kalau belum berhaji, kata seorang teman nih, ibaratnya diri ini masih tergadai. Menebus barang harga puluhan juta bisa, maka menebus diri sendiri yang juga puluhan juta itu juga (seharusnya) lebih bisa.
Jadi, tunggu apa lagi? Mari segera sambut pangilan Allah di tanah suci, senyampang kepayahan fisik belum menghampiri diri :)

pertemuan terakhir mengajar di cabang 1 :(

assalaamu'alaikum..

malem-malem gini, lagi nahan ngantuk. Kepikiran deadline proposal FPRJ (Forum Pimpinan Rohis Jakarta selatan), deadline kuisioner, deadline ngirim data anak-anak rohis mahasiswa baru ke Badan Pengawas LDK kampus, belum nyiapin materi untuk ngajar besok pula. Malem ini bener-bener mengharuskan untuk begadang. Lillah Nurul... Semangattt semangatt ... !!!!

Disela-sela menuntaskan segala deadline, ada baiknya jika saya berbagi cerita sedikitttt mengenai hari ini. Kalau dilihat dari judulnya sepertinya sih menyedihkan banget deh :(. Iya emang sedih banget. T_T
Hari ini bener-bener hari terakhir saya ngajar di Bimbel saya, di  Cabang 1. Sedihhhh banget gak akan ketemu sama murid yang unyu-unyu lagi. Huhuhuh.

Sebenernya sih gak mau ninggalin, tapi apa boleh buat. Itu semua dikarenakan saya ada jadwal brevet A & B setiap hari sabtu dari jam 08.00-04.00 di kampus STIAMI. Kalau temen-temen gak tau brevet A & B, itu tuh sejenis kursus pajak. Disana kita akan diajarkan bagaimana sih cara menghitung PPh pasal 21, PPN, dll deh. Pokoknya ngitung-ngitung pajak. Ehh balik lagi ke topik yaaa. Kan di Cabang 1 jadwal ngajarnya itu dari jam 13.00-17.00, jadi ya mau gak mau harus merelakan salah satu. Dan saya memutuskan untuk meninggalkan Bimbel saya. Karena kalau saya ninggalin brevet, saya lulus kuliahnya kapan? sedangkan tahun depan insya Allah saya sudah mulai fokus ngurus Tugas Akhir yang kayaknya gampang banget (kebalikannya). Brevet itu juga salah satu syarat sidang di Program Pendidikan kampus saya. Nah oleh karena itu saya diharuskan untuk meninggalkan kegiatan mulia saya itu (ciehhhh). Cuti ngajar disana selama kurang lebih tiga bulan rasanya lama banget :'(


Gak akan ada lagi deh anak kelas 5 yang unyu-unyu, rame pisann kalo lagi di Bimbel. Paqwita, suci, dll. Pas izin cuti ke kak Carine (Biro SDM)..

Saya : "kak..saya izin cuti ya ka selama kurang lebih tiga bulan mulai minggu depan"

Ka Carine : "Yahh..emang kenapa?"

Saya : "Saya ada brevet ka tiap hari sabtu dari jam 08.00 sampai jam 16.00"

Ka Carine : "Brevet apaan?"

Saya : "Pelatihan kursus perpajakan. Gimana ka? Boleh ya?"

Ka Carine : "Yahh...Ohh yaudah"

Ahh berat banget rasanya ninggalin cabang 1. Soalnya saya udah diminta untuk jadi pengajar tetap mata pelajaran akuntansi dan bahasa inggris dikelas 11 Akuntansi. Pas bilang sama kelas 11 juga gitu responnya, bikin gak enak buat ninggalinnya.

Saya : "De, kk mulai minggu depan udah gak bisa ngajar kamu lagi. Kk mau cuti"

Murid : "yahh kk. Trus yang ngajar kelas ini siapa kak?"

Saya : "Yaa mungkin pengajar lain dek. Yaa mau gimana lagi. Pengennya sih ngajar, tapi gak bisa"

Murid : "Yahh kk. Trus saya gimana kak?"

Saya : "Ya nanti kan ada pengajar lain dek. Ajak aja temen-temen sekelas biar rame"

Begitulah sekilas dialog pas ngajar di kelas 11 tadi sore. Huufhh berat ninggalinnya. Tapi rencana masa depan ini memaksaku untuk meninggalkan kalian sementara. Yapp ku yakin hanya sementara. Dan suatu saat nanti, ketika aku bertemu dengan kalian murid-muridku, aku ingin melihat kalian sudah menjadi orang yang sukses, sukses menebar kebaikandan manfaat bagi orang lain disekitar kalian. Semoga kalian selalu semangat dalam belajar. Bukan hanya semangat untuk hari ini saja, melainkan untuk selamanya. Insya Allah. Uhibbukum Fillah. :)

Untuk pengajar dan pengurus ICC Cabang 1, khususnya ka syirah sebagai kepala cabang yang tadi belum sempet ketemu karena kebetulan katanya kk kerja, mohon maaf yah saya izin cuti sementara untuk bisa menggapai salah satu mimpi saya ditahun depan. LULUS KULIAH. Ahh rasanya toga sudah didepan mata. Bismillah. Ridhoi mimpi aku Yaa Robb :)))))

Semangatt tiada akhirrr!! Fillaah!! Lillah!!

hari pertama kuliah disemester 5..

assalaamu'alaikum..
ehmm..udah lama kayaknya tidak mengunjungi blog saya sendiri..rasanya kangen deh..*lebay

kali ini saya akan cerita mengenai gimana sih kesan kuliah hari pertama disemester 5 ini? Menurut kalian gimana?
(nah..lho ko malah balik nanya deh -___-" )

alhamdulillah yah tanggal 12 September 2011 kemarin kampus saya udah mulai aktif KBM. Pun saya kebetulan memang ada jadwal kuliah hari senin itu. Jadwal kuliahnya dari jam 08.00-10.30. Cuma 1 mata kuliah aja, itu pun mata kuliah yang kayaknya danger banget pas tau nama mata kuliahnya. Nama mata kuliahnya adalah...tarrraaaaaaaa... akuntansi industri khusus.

Denger2 dari senior, waktu para senior ngambil matkul ini di semester sebelumnya (waktu saya semester 4), ujiannya itu lisan dan teori. Ihh wawww banget deh yahh. Baru kali ini tau kalo ujian di kampus itu ada ujian lisannya. >_<"
Tapi apapun mata kuliahnya, teteeeppp minumnya teh botol so*ro. (jiah ini apa banget deh promosihhh). Yaa itu udah harus dijalanin yah demi menggapai target lulus tahun depan, Insya Allah. Do'akan yah temen2. ^_^

Back to topic..jadi pas hari senin tanggal 12 itu pas saya masuk kelas, saya kira tehh udah telat. Ternyata masih segelintir orang yang dateng. Yah kira-kira sekitar 8 orang deh kalau gak salah. Dan dosennya pun belum dateng. Hadehh padahal udah buru-buru ke kampus. Tapi tak apalah, seenggaknya saya dateng lebih dulu daripada dosennya. Untuk matkul itu, kebetulan dapet ruangan yang cukup nyamaann lahh ya. Ruangannya di 202 kalo gak salah deh. Ada yang tau? kalo mau tau bisa ke kampus saya. Hehehe..
Maklum yah itu ruangan biasanya hanya dipakai untuk praktek akuntansi saja. Bisa dibilang kelas eksklusif deh. Mungkin karena kebanyakan mahasiswa kali ya, jadi mau gak mau ruangan itu harus digunakan untuk KBM. Bayangkan aja, mahasiswa fakultas ekonomi semuanya itu jumlanya ada 500an. Udah kayak pasar, riweuh banget banget banget banyak orang lalu lalang. Udah mana dilantai 1 itu pasti bau rokok banget di depan kelasnya. Bikin gak betah aja, asap rokoknya itu lhooo bikin pusing kepala. hiksss :((((

Ehh tadi udah sampai mana deh? lupa saya dah kebanyakan cerita :D
Oia sampai ruangan ya.. Iya jadi pas udah sampai kelas itu langsung nyapa temen2 yang lain. Karena udah lamaa banget gak ketemu. Karena masih moment lebaran nihh, jadi ya langsung aja sekalian minta maaf sama mereka, kali gitu kan banyak salah. :))
Gak lama nunggu, ehh ada desi dateng, trus nyusul si widya, dan terakhir si novi. (jieee novi, desi, widya kesebut nihhh) :p
Setelah pasukan ber4 lengkap, beberapa menit kemudian dosennya dateng. Nama dosennya Eka Sudarmaji. Kalau KBM sama beliau lagi berlangsung, gak boleh tuh yang namanya nulis-nulis dicatatan,dibinder,dibuku. Katanya ganggu konsentrasi mahasiswanya dalam memahami apa yang sedang beliau jelaskan. Beliau maunya langsung aja ambil materinya di yahoo groups. Yasudah pada akhirnya, tak ada satupun anak-anak yang mencatat materi kuliahnya. Uahh lama-lama ngantuk juga dijelasin sama pak Eka. Asliii bikin ngantuk. *maaf ya pak, saya hanya ingin jujur hehehe..

waktu itu selesainya sih jam 10.00.. Pas selesai perkuliahan, saya langsung janjian sama rizki, desi, dan novi untuk menyerahkan foto ukuran 3x4 dan fotocopy KTP ke kampus STIAMI untuk urusan brevet. Pada tau kan brevet itu apa? Kalo gak tau sok atuh dicari tau sendiri. hihihi :)
Brevet itu sejenis kursus, tapi ini khusus pajak. Jadi kita bisa langsung praktek ngitung-ngitung pajak seperti PPh, PPN, dll. Saya hanya ngambil brevet A dan B. Sebenernya ada brevet C juga sih. tapi karena saya kurang interested dengan pajak. Maka, saya hanya ngambil A dan B. 
Ahh lupa lagi deh tadi udah sampai mana. >_<

 *mikir sambil garuk2 kepala.
ahaaaaaa saya ingatttt.. Tadi sampe mau ngasih foto n fotocopy KTP yak :D
Sebelum saya berangkat ke STIAMI, saya dapet sms dari senior saya di kampus. Senior diSKI (Satuan kegiatan islam) di kampus. LDK-nya kampus saya. Isi sms-nya kurang lebih begini, "assalamu'alaikum nurul ada kuliah gak hari ini? kk mau ngasih oleh2 buat Nurul".

saya : "yahh kk kenapa repot2 -__-"

dia : "Ini beneran buat Nurul, bisa ketemuan gak?"

saya : "bisa ka, ketemu di mana kak?"

dia : "ketemu di farmasi sekarang ya. Kalo udah sampe farmasi, sms ka yah"

saya : "Iya ka..Ketemu di parkiran farmasi ya ka"

Setelah sudah sampai di parkiran farmasi minta temenin sama novi dan desi..sesuai dengan amanah kk-nya. Saya segera sms..
"kk..aku udah di parkiran nih". Sms dikirim..
Ehh tapi kok setelah nunggu lama ternyata gak ada tanda-tanda balasan sms dari kk-nya. Pas nge-cek hape, ternyata "sending failed". Halah gubraks deh. Gimana mau dibales coba sms-nya. Wong sms-nya aja belum terkirim. Hadehhh daritadi kek gitu taunya. Kan jadi gak kelamaan nunggu. Mana kasihan banget Rizki nunggu lama banget di masjid kampus. ehm..tapi apa mau dikata. Nasi sudah menjadi beras. *kebalik yak

Yasudah coba sms lagi, dan udah di sms 3x sms-nya gak "delivered". Percobaan terakhir yaitu telepon. Kalo ditelepon tetep gak bisa, saya memutuskan untuk langsung cabut ke STIAMI. Ternyata bener, hapenya itu mati pas saya telepon. Ya Allah sabaarrrrrrr2 ya Nurul. Sabar itu tak ada batasnya. :((

Sudahlah saya patah harapan, langsung aja dengan berattt hatii saya sms kk-nya bilang, "afwan ya kak, kapan2 aja ngasihnya. Aku buru2 mau ke kampus STIAMI udah janji sama temen". Gak enak juga sih sama kk-nya. Tapi yaa mau gimana lagi. 

yaudah berangkat deh langsung ke STIAMI bareng Novi, Rizki, dan Desi. Ngebolang ber-4 ke sana. Yaa perjalanan sekitar 40 menit lah. Aslii pegel banget ya. Andai di boncengin gitu, kan gak se-pegel ngendarain sendiri. Tapi saya harus mengendarai motor sendirian pada kenyataannya. Kasian yahh saya. huhuhuh :(


Setelah sampai sana, kita nyerahin foto dan fotocopy yang udah kita bawa. Terus nanya tanggal berapa masuknya. Alhamdulillah masuk brevet itu tanggal 24 September jam 08.00-16.00. Kegiatannya rutin tiap hari sabtu. Maka dari itu, mau gak mau saya harus melepas jadwal ngajar dihari sabtu. Sayang banget deh. Pasti akan kangen deh dengan murid-muridku disana serta pengajar-pengajar yang rempong hahah :(

Ehmm setelah saya selesai ke STIAMI, saya sempetin silaturrahim ke rumah Novi di daerah Beji, Depok bareng sama Desi. Disana ketemu sama Revan (umurnya sekitar 3 tahun), adiknya Novi. Unyuuuu banget deh. Masa saya dipanggil mba Enu sama dia karena dia gak bisa manggil saya dengan sebutan 'Nurul'. haha dasar tu anak mau dijitak kali yak. Udah diajarin sama saya untuk manggil saya Nurul, tapi dia nya gak mau.. huuu dasar si unyuu Revan .. :D

Abis cape-cape di rumah Novi, akhirnya saya dan Desi memutuskan untuk pulang. Karena jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. 

Udah dulu yaaa temans sekalian.. Malem ini saya lagi gak enak badan sejak 4 hari yang lalu. Jadi saya harus banyak istirahat. Mohon do'anya semoga lekas sembuh dan penyakit ini bisa menggugurkan dosa-dosa saya. Aamiin..

Selamat beristirahat yah.. semoga esok akan jadi hari yang menyenangkan .. 
Wassalaamu'alaikum.. :))

Ketika Halaqah Tak Lagi Dirindui (tadzkiroh untuk kita semua)

dakwatuna.com - Suara-suara mendengung bak lebah itu menumbuhkan suasana syahdu dan khusyuk. Lantunan kalam Ilahi yang meluncur dari lisan-lisan shalih itu bak mantera penguat jiwa. Muraja’ah hafalan surat-surat dalam Al-Qur’an serta talaqqi madahpenuh dengan semangat dan optimisme yang tinggi. Pertemuan pekanan ini ibarat ruh bagi jiwa, bak air untuk kehidupan.
Majelis pekanan yang lazim dikenal sebagai halaqah, tak bisa dipungkiri adalah nadi bagi sebuah harakah Islamiyah. Di dalamnya, para kader dakwah berinteraksi secara intim dan intens di bawah bimbingan seorang Murabbi. Pertemuan-pertemuan pekanan semacam ini haruslah dinamis dan produktif agar harakah Islamiyah dapat terus menggulirkan amal-amal dakwah demi kejayaan Islam. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa tak selalu halaqah ini berjalan mulus. Ada kalanya rutinitas pekanan ini didera kelesuan. Karena bagaimanapun pribadi-pribadi di dalamnya adalah manusia, bukan kumpulan para malaikat, yang memiliki iman yang fluktuatif.
Mengapa sebuah halaqah tak lagi nyaman didatangi?
Pertama, disorientasi tujuan.
Motivasi orang mengikuti kajian rutin seperti halaqah sangat beragam. Ada yang karena ingin mendalami ilmu agama. Ada yang tertarik oleh ajakan kawan. Ada yang bersungguh-sungguh ingin menegakkan agama Allah. Pun tak sedikit yang semangat berhalaqah agar naik jenjang keanggotaan dalam jamaah. Nah, ketika dirasa peluang naik tingkat sangat kecil, bukan tidak mungkin semangat yang sebelumnya menyala-nyala bisa langsung padam. Disorientasi tujuan ini berkaitan erat dengan ruhiyah seseorang sehingga ketika ada yang mengalami hal ini, maka pasokan ruhiyahnya harus ditingkatkan. Bisikan-bisikan hawa nafsu harus ditepis agar keikhlasan tetap terjaga. Komitmen bergabung dalam jamaah dakwah harus dikuatkan kembali.
Kedua, pelaksanaan halaqah yang membosankan.
Bagaimanapun, mengelola halaqah ada seninya. Meskipun kurikulum sudah ada, silabus sudah lengkap dan tujuan masing-masing materi sudah jelas, tetap saja diperlukan strategi agar halaqah berjalan dinamis dan penuh kesan. Halaqah yang melibatkan semua komponen dan bergerak menuju arah yang sama tentulah halaqah yang sangat dinanti-nantikan kehadirannya. Oleh karenanya setiap individu di dalam halaqah memiliki peranan yang sangat penting demi mewujudkan halaqah yang dirindui.
Ketiga, hubungan Murabbi dengan mutarabbi.
Murabbi sebagai pemimpin dan pengendali halaqah memegang peranan yang paling penting. Sosoknya haruslah mampu diterima semua anggota kelompok. Tidak ada penolakan terhadap dirinya. Imam Hasan Al Banna mengibaratkan figur ini sebagai syaikh dalam hal kepakaran ilmu, orang tua dalam hal kasih sayang, guru dalam hal pengajaran, kakak dalam hal teladan dan pemimpin untuk urusan ketaatan.
Pernah ada seorang mutarabbi yang menyampaikan kepada Murabbinya, “Ustadz, saya usul dalam halaqah kita ketika adzan Isya’ berkumandang marilah kita segera shalat berjamaah sebagaimana ketika kita shalat Maghrib.” Tak dinyana, jawaban Sang Murabbi begini.”Akhi, saya ketika halaqah dengan para doktor-doktor syariah biasa saja gak shalat Isya’ jamaah waktu halaqah. Shalatnya nanti di rumah saja biar waktu halaqah nggak terlalu lama. Saya rasa, yang perlu diperbaiki itu komitmen Antum. Antum suka datang telat, waktu halaqah tidur, kurang ihtiram, gak setor hafalan….”
Menjadi pemimpin, tak boleh alergi kritik sebagaimana menjadi mutarabbi pun tak boleh alergi nasihat dan teguran. Ketika jawaban tersebut disampaikan, maka si Al akh pun balik membalas, “Ustadz, saya kan usul. Usul itu bisa diterima atau ditolak. Kalo diterima, Alhamdulillah kalo nggak ya nggak apa-apa. Jangan malah membeberkan aib-aib saya…”

Halaqoh :)

Ketika hubungan Murabbi-Mutarabbi seperti ini –saling menyerang- pastilah halaqah bukan lagi momen yang dirindukan. Ia akan menjadi waktu yang tidak diharapkan, atau dijalani dengan terpaksa. Dihadiri tanpa semangat. Oleh karenanya harus ada hubungan yang mesra antara Murabbi dengan mutarabbi-nya. Jika hubungan ini sudah tercipta, niscaya halaqah akan menjadi momen yang dinanti-nanti.
Keempat, melemahnya militansi.
Bisa jadi, masa-masa awal mengikuti halaqah adalah momen-momen yang tak terlupakan. Berkobar-kobarnya semangat dan keinginan meninggikan agama Allah. Setelah itu akan dirasakan kestabilan dan keadaan yang biasa-biasa saja. Kesibukan dunia, rutinitas kerja, tuntutan-tuntutan di luar dakwah dan kompleksitas dari ketiga faktor di atas akan melemahkan militansi. Pada kondisi seperti ini, halaqah bisa berubah menjadi sekedar rutinitas yang menjemukan. Hanya akan menjadi majelis ‘setor muka’. Jika ini yang terjadi, maka wajarlah jika kelak lambat laun halaqah tak akan lagi dirindui. Oleh karenanya, bangkitlah! Semangat itu tak dicari, tapi ditumbuhkan. Kemudian dipupuk dan dijaga dari hama dan virus yang akan melemahkannya. Militansi tak kenal musim. Ia harus dijaga senantiasa hidup dan menjadi api perjuangan.
Wahai Saudaraku, mari tumbuhkan kerinduan akan hari itu. Hari pertemuan kita dengan saudara yang diikat karena Allah. Hari yang di dalamnya penuh keberkahan dan doa para malaikat. Satu hari dalam setiap minggu yang kita dedikasikan untuk menghasilkan amal-amal dakwah dalam bingkai harakah Islamiyah…

by : Qonitatillah, MSc.

Ulama Arab Saudi Kecam Astronom yang Ragukan Hilal Ramadhan

dakwatuna.com - Sejumlah ulama konservatif mengancam akan menggugat astronom dan ilmuwan Arab Saudi bernama Khaled Al-Zaaq yang meragukan kesaksian warga yang melihat bulan sabit Syawal terlihat pada 29 Ramadan 29 (29 Agustus).
Setelah mengonfirmasi kebenaran dari kesaksian orang-orang, komite hilal Arab Saudi menyatakan akhir bulan puasa Ramadan dan menandai munculnya Idul Fitri pada hari berikutnya (Selasa, 30/8).
Ancaman itu datang di tengah perdebatan antara para sarjana Muslim dan astronom tentang kemungkinan penampakan bulan pada 29 Agustus.
Menurut kalender Islam, bulan-bulan Arab dapat berupa 29 atau 30 hari paling lama.
Pada banyak kesempatan, Idul Fitri telah dirayakan setelah hanya 29 hari puasa.
Namun, tahun ini perdebatan berubah panas setelah Al-Zaaq secara luas dikutip oleh pers lokal dan situs elektronik yang menyebutkan tidak ada cara untuk melihat bulan sabit pada malam 29 Ramadan.
Sejumlah astronom Saudi telah mengeluarkan pernyataan pers menyatakan bahwa bulan tidak bisa terlihat. Tapi, para ulama Islam yang terkenal membela kesaksian dari orang-orang yang melihat bulan dan berkata Idul Fitri datang di waktu yang tepat.
Mufti Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Asheikh dalam khutbah Jumat pekan lalu di Masjid Imam Turki bin Abdullah di Riyadh menggambarkan orang-orang yang meragukan bulan terlihat sebagai orang yang ingin menyimpangkan warga dengan mulut kotor. (Arabnews.com/OL-5/MIOL)

ahh..akhirnya saya punya kampung..!

assalaamu'alaikum temen2 semua.. apa kabar nih? yang jauh yang deke..t cuma 2000 rupiah aja.. *nah lho ini mau naik bis apa nanya kabar deh >_<

Ehm..langsung aja kali yah.. Mungkin temen2 bingung kenapa judulnya kok aneh banget yah? hehe..
Yap..saya punya kampung itu juga karena kk (yang pertama,cowok) saya yang ternyata insya Allah berjodoh dengan orang yang tinggalnya di Jawa (nah ini juga di pulau Jawa ya,hee) lebih tepatnya di Magetan. Maklum yah,, keluarga saya semuanya tinggal di Jakarta, asliiii jakarteee, jadi gak pernah tuh yang namanya ngerasain ribetnya mudik. hehe.. norak banget ya. Dan sepupu2 juga yang udah pada nikah, jodohnya sama orang asli jakarta juga rata2. Biarin deh, biar ngerasain betapaa kerasnya hidup di Jakarta :))

Ehm.. bingung yah kenapa ko kk saya bisa berjodoh dengan orang yang jauuuuuuuhhhh banget.
coba aja dipikirin dari Madinah ke Magetan, itu kan jauh jauh jauh sangat yah. Tapi yaa yang namanya jodoh kan rahasia Allah :)
Awalnya sih (katanya), dulu kan kk saya emang awalnya tinggal di Abu Dhabi untuk kerja. Itu terjadi pada tahun 2009 kalo gak salah. Trus berberapa tahun kemudian resign dan dapet kerja lagi deh di Madinah. Subhanallah yah (gaya syahrini). nah disana dia gak mau sia2in kesempatan itu, makanya dia memustuskan untuk melanjutkan studinya disana, kuliah :) Alhamdulillah yah (gaya syahrini lagi).
Masuk ke tahun 2011 tepatnya bulan apaa gitu saya lupa, dia lulus kuliah disana dengan predikat MUMTAZ (subhanallah yah). Bangga juga punya kk pinter.
Eh setelah lulus kuliah gak lama dia kepengen nikah. Sebenernya kepengennya udah dari tahun 2009, kebetulan dateng lah calonnya. Tapi waktu itu di stop proses ta'arufnya karena orang tua saya gak yakin dengan calon kk saya itu. Kenalnya sih lewat guru ngajinya disana, dan temen kerjanya juga sih ternyata.  Calonnya (yang gak jadi) *ini miris banget deh, tinggal di Amerika, itu yang bikin mama gak yakin. "disana dia kehidupannya gimana?" "tinggal sama siapa?" "orangtuanya dimana?". haduhh pusing dehhh akhirnya gak jadi juga.
Tapi alhamdulillah juga sih gak jadi, soalnya liat perubahan sekarang itu calon gak jadinya kk saya ya ampuunnn mengenaskan deh. Ini baru liat lewat fb nya, gimana yang aslinya yah. hemh Wallohua'lam ternyata Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Subhanallah yah. Rahmat Allah begitu luassssssss :))

Kenapa saya bilang Allah menggantinya dengan yang lebih baik?
Karena katanya calon jodohnya yang beneran ini sudah hafizhoh loh, hafal 30 juz Al Qur'an. Subhanallah yah (alah, daritadi ketularan virus syahrini nih).
Padahal umurnya lebih muda 1 bulan dari saya. baru 19 tahun. Malu saya sama dia :((
Dia bulan April, saya bulan Maret. Kalo ada yang mau ngadoin ke saya monggo dengan senang hati saya terima. hee
Proses awalnya dengan calon yg hafizhoh ini lagi2 lewat guru ngajinya. Jadi gini, kan gurunya punya istri, nah istrinya itu pengurus pesantren Bukhari, di pesantren itulah calonnya mengabdi, setelah menjadi murid di Bukhari selama beberapa tahun gitu katanya (lupa). Namanya kilawatun niswah. Bagus yah namanya. :))
Pas di madinah kk saya coba bicara nih sama ortu, terutama mama.Ngasih biodata lengkapnya si Kila.
Mama sih setuju2 aja, asalkan katanya mau ketemu langsung sama calonnya. Liat keadaan sebenernya gimana. Gitu kata mama.

Karena ka adin masih ada di Madinah, yowis harus nunggu dia pulang dulu dong ke Indonesia kalo mau silaturrahim langsung ke rumahnya Kila. Yaudah nunggu nungguuuuuu sampe petengahan bulan Juli ka adin akhirnya sampe Jakarta dengan selamat. Alhamdulillah yah :D
Proses ta'aruf pun dilanjutkan...
Finally, akhir juli mama, bapak, ka adin pergi ke Magetan untuk silaturrahim kerumah keluarga Kila (sekalian nadhor -proses melihat calon-). Kata mama jauuuhhh banget tempat dari gangnya kerumahnya. Dari bandara solo ke rumahnya aja 3 jam perjalanan. Belum ngelewatin ke dalam gangnya yang berpuluh2 km (kata mama). Gak bisa dibayangin deh nanti kalo kesana jauhnya kayak apa -____-"

ting ting...pas disana katanya Kila malu2 gitu deh. ahayyy namanya juga wanita yah. Saya juga gitu kali nanti. Halah ngarepp pisannnn.
eng ing eng..setelah selesai proses nadhor eh si Kila gamau jawab 'iya' atau 'gak'. Kurang tau deh apa dia gamau atau malu2.  :D
Yaudah mama bilang ke ortunya Kila "Yaudah ini kan belum tau jawabannya, mending kita sama2 istikharah dulu ya"..
trus abis itu izin pulang..
Pas perjalanan pulang (udah sampe bandara di Solo), eh ada sms masuk dari istri gurunya kk saya yang punya pesantren tadi.. isi smsnya gini "alhamdulillah lanjut bu".. ahaiiiii pasti kk saya seneng banget dah tuh. Hahah... belum sampe rumah tapi udah tau jawabannya. Curang dia..
Itu artinya udah sekalian proses khitbah, dan wanitanya nerima lamaran dari kk saya. Alhamdulillah yah setelah melalui proses yang panjaaaang. Akhirnya dia bisa nikah juga. hee

Lanjut kapan2 yah..udah ngantuk banget nih..takut telat bangun sahurnya..
Ngedongengnya dilanjut kapan2 aja gapapa ya? *iya2 gapapa ko* hee
Semoga bermanfaat yah. Kalo gak bermanfaat ya dimanfaat2in aja. *halah maksa

Solidaritas Jilbab Internasional

Mujahhidah sejati ^_^
ahad, 4 September 2011..

Potret 1

Dalam acara kumpul keluarga besar, di malam hari menjelang tidur, Nina tetap mengenakan jilbabnya, bahkan tetap berpakaian rapi tanpa mengurangi apapun yang melekat pada dirinya. Di sisi lain, saudara-saudaranya, tantenya, budenya, atau kakak adiknya yang juga memakai jilbab telah membuka jilbabnya dan memakai pakaian siap tidur.

“Kenapa pas mau tidur jilbabnya nggak dibuka, kan disini saudara semua”

saudara, tapi kan belum tentu mahram.

atau pertanyaan lain

“Naak, kamu kenapa tetap pakai kaos kaki sih kalau di rumah saudara?”

hmm..

“Hati-hati jangan terlalu fanatik belajar agamanya Mbak”


Potret 2

Setiap ada tamu mendadak di rumah, atau ketika Ibu meminta bantuan beli sesuatu di warung, maka Nina selalu butuh waktu sejenak, untuk memakai rok panjang, jaket, kerudung kaos, dan kaos kaki. Seperti berlebihan, karena biasanya Ibu hanya menyambar jilbab ketika ke warung, atau bahkan lupa memakai jilbab ketika menyapu di halaman rumah.

Pertanyaan Nina ke Ibunya,

“Bu, kalau ke depan rumah dipakai jilbabnya”

“Kan ke depan aja, ga ada siapa2 kok”

“Itu Bu, ada tetangga yang Bapak-bapak”

“Ah, ga apa2 itu mah. tetangga kan saudara”

Sesekali Ibu Nina yang balik bertanya ketika Nina bersiap merapikan seluruh pakaiannya sebelum pergi,

“ke warung aja ngapain pake kaos kaki sih?”

“Kaki kan juga aurat Bu,”

“Aiih, warung kan deket, yang liat juga ga banyak, cuma tetangga doang”


Potret 3

Saat acara pernikahan saudara, Nina mendapat peran sebagai penerima tamu. Seperti orang-orang lain yang bertugas, Nina juga dibantu oleh seorang perias dalam mengenakan pakaian dan jilbabnya. Berbagai assesoris disiapkan, agar jilbab yang dikenakan tetap terlihat modis dan baju yang dikenakan pun terlihat hiasannya.

“Tante, ini jilbabya saya pakai sendiri ya, nanti tante yang hias bagian atasnya saja”

Pinta Nina sebelum tante perias memakaikan jilbab yang pastinya akan tercekik di bagian leher.

“Oh silahkan mba.. Eh ini kenapa dilapisin jilbabnya”

“Ini kan tipis jilbabnya tante, saya pakainya panjang menutup dada.”

“Oh, kalau sampai menutup dada sayang nanti hiasan di baju bagian atasnya ga kelihatan”

“Gak papa tante, saya biasa pakai begini..”

Tante perias jilbab pun masih berusaha merapikan jilbab yang telah dikenakan Nina seperti biasa tanpa hiasan. Beruntung Nina telah mempersiapkan jilbab lapis sendiri, jilbab lain untuk hiasan dan perlengkapan lainnya sehingga tante perias tidak banyak protes saat Nina meminta jilbabnya tetap terulur hingga ke dada. Di luar sana, banyak perias yang suka protes atau terlalu mengatur orang yang dirias karena menurutnya akan mempengaruhi hasil riasannya. Tetapi, untuk hal-hal yang prinsip, tetap harus dipegang sekuat hati.


Masih banyak potret-potret yang lainnya yang kadang memiliki berbagai pandangan dari orang-orang sekitar. Ketika seorang muslimah yang berhijab ingin sempurna menutup auratnya, ingin menyeluruh menjalankan ajaran agamanya, tetapi justru dianggap fanatik. Hal tersebut terjadi karena pemahaman setiap orang atas ajaran agama ini belum menyeluruh, sehingga pola pikir yang ditimbulkan pun berbeda. Padahal setiap aturan islam terangkum jelas, baik dalam Al-Qur’an maupuh hadits. Selain itu buku-buku Islam yang membahas aturan islam secara spesifik pun mudah didapatkan di toko-toko buku. Namun sayangnya, berbagai pengetahuan itu kalah populer dengan perkembangan mode dan budaya yang ada saat ini, sehingga masyarakat melihat yang benar adalah yang kebanyakan terlihat di masyarakat, dan yang sedikit itu masuk dalam kategori fanatik atau berlebihan dalam menjalankan ajaran agama. Fanatik lebih dekat konotasinya dengan hal yang negatif, sedangkan kaafah atau menyeluruh diperintahkan oleh Allah melalui Al-Qur’an yang pasti bermakna positif.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh (QS. Al-Baqarah:208)

Pada awal masa peredarannya di Indonesia, jilbab benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat. Bentuknya sederhana dan penggunanya pun masih sedikit karena pada masa itu pelarangan jilbab masih terjadi di Indonesia. Jika kita tengok pada masa itu, maka jilbab yang banyak dikenakan adalah jilbab yang sesuai syariat, menutup dada, tidak transparan karena kainnya tebal, dan tidak beragam bentuknya. Jilbab pada masa itu bukan ada karena perkembangan trend dalam berbusana, tapi jilbab pada masa itu adalah simbol perjuangan. Setelah jilbab dibebaskan penggunaannya, muslimah yang berjilbab pun semakin bertambah jumlahnya. Tak ada lagi kekhawatiran mereka tentang diskriminasi yang ada, karena jilbab telah diterima dengan baik.

Hal tersebut memberi peluang berbagai pihak untuk menggunakan kreatifitasnya, sehingga model jilbab pun semakin banyak. Saat ini berbagai model hadir untuk memenuhi kebutuhan muslimah tetapi sayangnya tidak semua trend jilbab yang ada sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, banyak juga jilbab yang hanya digunakan sebagai busana sehingga hanya dikenakan saat berpergian jauh, saat acara-acara penting, atau saat pengajian. Sementara saat di rumah, ke warung, atau mengantar anak ke sekolah, dengan santainya tak memakai penutup aurat itu. Seakan jilbab mengalami pergeseran makna, dari kewajiban sebagai penutup aurat menjadi busana agar terlihat semakin menarik. Setelah trendjilbab gaul marak, maka jilbab-jilbab syar’i yang cenderung lebih konservatif pun dianggap moderat. Jilbab panjang cenderung dianggap tidak modis dan identik dengan fanatisme.

Pertama,

Sebenarnya simple, bahwa tujuan menutup aurat adalah menghindari terlihatnya bagian tubuh secara langsung ataupun tidak langsung. Maka, menutup aurat dengan jilbab adalah dengan kain yang tidak transparan, kain yang menutup hingga ke dada, dan tentunya tidak ketat agar tak terlihat bentuk tubuhnya. Simpel, tapi terkadang yang sesimpel itu belum terinternalisasi pada seluruh muslimah.

Kedua,

Esensi menutup aurat adalah menutupnya dari orang-orang yang tidak termasuk dalam mahram. Tidak semua saudara laki-laki dalam keluarga besar termasuk mahram, misalnya ipar atau saudara sepupu. Orang-orang yang termasuk mahram tercantum dalam Qur’an Surat An-Nur:31. Jadi kepada orang-orang selain mahram tersebut, kita sebagai muslimah wajib menutup aurat.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atauayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, ataupelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-Nur:31)

Ketiga

Tentang jilbab adalah tentang kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar, maka menjaganya adalah menjaga kehormatan dan izzah sebagai seorang muslimah. Maka, ketika persoalan jilbab harus disandingkan dengan persoalan lain seperti pekerjaan, penampilan, atau eksistensi diri, jilbab harus tetap menjadi perhatian utama. Bagaimanapun kondisinya, usahakan jilbab syar’i tetap melekat pada diri kita. Saat ini, model jilbab yang syar’i tapi tetap modis juga telah banyak beredar sehingga tak perlu khawatir ketika harus tetap tampil syar’i saat acara-acara pernikahan atau acara penting lainnya. Bahkan ketika di luar negeri yang memiliki musim panas, jilbab syar’i tetap dipertahankan oleh muslimah yang ingin kaafah menjalankan ajaran agamanya.

“Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatinya bersamamu.” (HR. Tirmidzi)

Di luar respon negatif seperti pada potret-potret sebelumnya, masih ada respon positif dari mereka yang jujur dengan ajaran agamaNya. Respon positif ini tak lepas dari benih-benih pemahaman yang telah ditanamkan sebelumnya.

Potret 4

Saat menjahit baju untuk sebuah acara pernikahan saudara, Nina tetap berusaha agar kebaya yang ia kenakan tidak seperti kebaya pada umumnya yang dibuat pas dengan ukuran tubuh. Maka ia sangat berpesan pada Ibu penjahit untuk melebarkan ukuran bajunya.

“Bu, ini jahitnya jangan ngepas badan ya, tolong dilebihkan di bagian pinggangnya.”, pinta Nina pada seorang penjahit yang sedang mengukur badannya.

“Ooh gitu ya Mba, tapi kalau kebaya kurang bagus kalau lebar” jawab Ibu penjahit.

“Yang penting ga ngebentuk badan Bu, jadi dilebihin saja di sampingnya. Untuk panjang ke bawah dibuat sampai lutut juga Bu..”, tutur Nina.

“Iya ini Bu, dia ga mau pakai baju yang ngepas-ngepas. Sukanya yang lebar”, tambah Ibunda Nina.

“Iya, sih Bu, harusnya yang benar memang begitu kan. Dididik bagaimana sih Bu, ini anaknya bisa shalihah begini”

Ya, penjahit itu jujur bahwa sejatinya pakaian yang sesuai syariat tidak ketat dan tidak memperlihatkan lekukan badan. Walau biasanya ia menjahit sesuai dengan ukuran badan yang pas agar terlihat cantik, tapi ia tetap mengakui bahwa di luar kecantikan itu ada hal yang lebih tinggi, aturan syariat agama.

Bukan, yang kita cari memang bukan respon atau tanggapan dari orang-orang sekitar kita. Karena pandangan manusia tak ada artinya dibandingkan pandangan Allah. Namun, tentunya menjadi tugas kita untuk mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita, agar pemahaman mereka tentang agama ini tidak setengah-setengah. Agar setiap muslimah di sekitar kita mengerti bagaimana cara menjaga auratnya dengan sempurna dan dapat menjaga izzahnya dimanapun mereka berada.

Muslimah shalihah, yang kita jalani adalah untuk menunjukan bagaimana seharusnya menutup aurat yang sempurna yang benar, bukan fanatik. Beberapa potret di atas merupakan sebagian kecil dari pengalaman – pengalaman seorang muslimah yang mungkin sekarang sedang terjadi di antara kita. Muslimah cerdas harus mengambil langkah yang tepat saat dianggap berlebihan dalam menjalani ajaran agama, bukan dengan meninggalkan prinsipnya atau bahkan merasa malu atau minder saat dianggap minoritas, tetapi siap menebarkan benih-benih pemahaman yang sebenernya dengan cara yang tepat. Ketika kita meyakini suatu hal, maka kita akan memegangnya dengan sunguh – sungguh dan pastikan hal yang kita pegang saat ini sesuai dengan dua pedoman yang ditinggalkan Rasulullah SAW untuk umatnya hingga akhir zaman, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Semoga hijab menjadi pakaianmu. Semoga kesucian menjadi amalanmu. Semoga kesopanan menjadi perhiasanmu. Semoga syurga menjadi tempatmu (ed/nif)


Dipersembahkan untuk muslimah seluruh dunia

Selamat Hari Solidaritas Jilbab Internasional!

Oleh Maya Retno Ayu S, Kabid 1 SALAM UI 14

untuk calon suamiku :D :')

*iseng2 di kesunyian malam..

Untuk Calon Suamiku…..
Bila Allah mengizinkan kita bertemu kelak . . .
Bila Allah mewujudkan takdir pernikahan kita kelak . . .

Dan bila kemudian disaat kita hidup bersama, lantas terlihat sisi salah pada diriku, semoga Allah mengkaruniakanmu kemampuan untuk melihat sisi baikku. Sungguh Allah SWT yang mempertemukan dan menyatukan hati kita berpesan, “Dan pergaulilah mereka (isterimu) dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” [QS: An Nisa' 19]. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang kita cintai pun berpesan, “Sempurnanya iman seseorang mukmin adalah mereka yang baik akhlaknya, dan yang terbaik (pergaulannya) dengan istri-istri mereka.” Jika engkau melihat kekurangan pada diriku, ingatlah kembali pesan beliau, Jangan membenci seorang mukmin (laki-laki) pada mukminat (perempuan) jika ia tidak suka suatu kelakuannya pasti ada juga kelakuan lainnya yang ia sukai. (HR. Muslim)

Sadarkah engkau bahwa tiada manusia di dunia ini yang sempurna segalanya? Bukankah engkau tahu bahwa hanyalah Alllah yang Maha Sempurna. bukankah kurang bijaksana bila kau hanya menghitung-hitung kekurangan pasangan hidupmu? Janganlah engkau mencari-cari selalu kesalahanku, padahal aku telah taat kepadamu.

Saat diriku rela pergi bersama dirimu, kutinggalkan orangtua dan sanak saudaraku, ku ingin engkaulah yang mengisi kekosongan hatiku. Naungilah diriku dengan kasih sayang, dan senyuman darimu. Ku ingat pula saat aku ragu memilih siapa pendampingku, ketakwaan yang terlihat dalam keseharianmu-lah yang mempesona diriku. Bukankah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, Ali bin Abi Tholib saat ditanya oleh seorang, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak perempuan, dengan siapakah sepatutnya aku nikahkan dia?” Ali r.a. pun menjawab, “Kawinkanlah dia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah, sebab jika laki-laki itu mencintainya maka dia akan memuliakannya, dan jika ia tidak menyukainya maka dia tidak akan menzaliminya.” Ku harap engkaulah laki-laki itu, duhai calon suamiku.

Saat terjadi kesalahan yang tak sengaja ku lakukan, mungkin saat itu engkau mendambakan diriku sebagai istri tanpa kekurangan dan kelemahan. Perbaikilah kekurangan diriku dengan lemah lembut, janganlah kasar terhadapku. Bukankah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengajarkan kepada dirimu, saat Muawiah bin Ubaidah bertanya kepada beliau tentang tanggungjawab suami terhadap istri, beliaupun menjawab, “Dia memberinya makan ketika ia makan, dan memberinya pakaian ketika dia berpakaian.” Janganlah engkau keras terhadapku, karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun tak pernah berbuat kasar terhadap istri-istrinya.

Duhai Calon Suamiku…
Tahukah engkau anugerah yang akan engkau terima dari Allah di akhirat kelak? Tahukah engkau pula balasan yang akan dianugerahkan kepada suami-suami yang berlaku baik terhadap istri-istri mereka? Renungkanlah bahwa, “Mereka yang berlaku adil, kelak di hari kiamat akan bertahta di singgasana yang terbuat dari cahaya. Mereka adalah orang yang berlaku adil ketika menghukum, dan adil terhadap istri-istri mereka serta orang-orang yang menjadi tanggungjawabnya.” [HR Muslim]. Kudoakan bahwa engkaulah yang kelak salah satu yang menempati singgasana tersebut, dan aku adalah permaisuri di istanamu.

Jika engkau ada waktu ajarkanlah diriku dengan ilmu yang telah Allah berikan kepadamu. Apabila engkau sibuk, maka biarkan aku menuntut ilmu, namun tak akan kulupakan tanggungjawabku, sehingga kelak diriku dapat menjadi sekolah buat putra-putrimu. Bukankah seorang ibu adalah madrasah ilmu pertama buat putra-putrinya? Semoga engkau selalu mendampingiku dalam mendidik putra-putri kita dan bertakwa kepada Allah.

Ya Allah,
Engkau-lah saksi ikatan hati ini…
Engkau-lah yang telah menentukan hatiku jatuh pada lelaki ini,
jadikanlah cinta ku pada calon suamiku ini sebagai penambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Namun, kumohon pula, jagalah cintaku ini agar tidak melebihi cintaku kepada-Mu,
hingga aku tidak terjatuh pada jurang cinta yang semu,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu. Jika ia rindu,
jadikanlah rindu syahid di jalan-Mu lebih ia rindukan daripada kerinduannya terhadapku,
jadikan pula kerinduan terhadapku tidak melupakan kerinduannya terhadap surga-Mu.
Bila cintaku padanya telah mengalahkan cintaku kepada-Mu,
ingatkanlah diriku, jangan Engkau biarkan aku tertatih kemudian tergapai-gapai merengkuh cinta-Mu.

Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kokohkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

Amin ya rabbal ‘alamin.

Sifat Sujud Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam

Inilah tujuh anggota yang dipergunakan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk bersujud, yaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua kaki, dahi dan hidung. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjadikan dua anggota terakhir (dahi dan hidung) menjadi satu dalam sujud.

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda ”Aku perintahkan untuk bersujud, (dalam riwayat lain disebutkan : Kami diperintahkan untuk bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan) yaitu dahi, (dan menunjuk hidungnya dengan tangan) serta kedua tangan, (Dalam lafal lain disebutkan : Dua telapak tangan, dua lutut, ujung kedua telapak kaki, dan kami tidak boleh menyibak baju dan rambut).” (HR Bukhari dan Muslim).

**************************


Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak membentangkan kedua lengannya, akan tetapi Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengangkat kedua lengannya, menjauhkan dari sisinya sehingga tampak bulu ketiak putihnya dari belakang. Apabila seekor anak domba menerobos di bawah lengannya, tentu dengan mudah dapat melewatinya.

Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melebarkan lengannya sehingga seorang sahabatnya berkata ”Mungkin kami bisa menerobos di bawah ketiaknya, saking lebarnya jarak antara lengan dan lambungnya dalam bersujud.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam memerintahkan melakukan hal itu dalam sabdanya "Apabila engkau bersujud, letakkanlah tanganmu dan angkatlah kedua sikumu." (HR Muslim dan Abu Uwanah).

*****************
Dalil merapatkan tumit ketika sujud

Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

“Suatu malam, aku pernah kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidurku. Maka aku pun meraba-raba mencari beliau hingga tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki beliau yang sedang ditegakkan. Ketika itu beliau di tempat shalatnya (dalam keadaan sujud) dan sedang berdoa: Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu dan dengan maaf-Mu dari hukuman-Mu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu, aku tidak dapat menghitung pujian atas-Mu, Engkau sebagaimana yang Engkau puji terhadap diri-Mu.” (HR. Muslim no. 486)

pada kalimat [tanganku menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki ]

sehingga, dengan itu dianggap bahwa kedua tumit bersatu / berdekatan.”
 
sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=238944322783820&set=a.155307307814189.30390.100000047612634&type=1&theater
 
 
wallohua'lam bishshowwab.. 'afwan kalau ada kesalahan mohon dikoreksi. karna ana masih dalam tahap belajar    :)    :)    :)

Perlukah Menambahkan Kata “Sayyidina” dalam Tahiyat??

cekidot yukkk...

 Apa hukumnya menambahkan kata “sayyidina” dalam salawat pas tahiyat saat shalat?
Ridwan (**oneabout@***.co.id)
Jawaban:
Bismillah. Sikap yang tepat adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berhalawat, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis, tanpa menambahi atau pun mengurangi.
Al-Hafizh Ibnu Hajar menegaskan bahwa tidak ada satu pun riwayat tentang shalawat yang membuat tambahan “sayyidina” Beliau mengatakan, “Al-Qadhi ‘Iyadh (ulama Mazhab Syafi’i) telah mengumpulkan dalam satu bab khusus di kitabnya, Asy-Syifa’, tentang tata cara bersalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sebutkan beberapa riwayat dari para shahabat maupun tabi’in; tidak ada satu pun di antara mereka yang menambahkan lafal ‘sayyidina’.”
Di antaranya adalah riwayat dari Ibnu Abi Laila, bahwa beliau bertemu Ka’ab bin Ujrah (shahabat), kemudian Ka’ab mengatakan, “Maukah kamu, aku beri hadiah? Sesungguhnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, kemudian kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, … Bagaimanakah bacaan salawat kepadamu?’ Beliau bersabda, ‘Ucapkanlah, ‘Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad ….”” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Andaikan tambahan kata “sayyidina” itu disyariatkan, sebagai bentuk rasa hormat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu Ka’ab bin ‘Ujrah, seorang shahabat yang mulia, akan mengajarkannya kepada muridnya, karena merekalah orang yang paling hormat dan paling tahu cara mengagungkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah kita memahami bahwa bacaan shalawat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memuat tambahan “sayyidina” maka bacaan salawat ketika shalat tidak boleh ditambahi “sayyidina”. Semua bacaan dalam shalat harus tepat sesuai dengan bacaan yang disebutkan dalam dalil. Bahkan, sebagian ulama menyatakan bahwa menambahkan lafal “sayyidina” dalam bacaan salawat ketika shalat bisa membatalkan shalat.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).

Semoga bermanfa'at.. wallohua'lam bishshowwab    :)      :)      :)

kisah Cinta Ali dan Fathimah :)

Maha Besar Allah Ta'ala Yang Mengatur Cinta Hambanya

Kisah ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakar Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakar. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakar lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakar menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakar berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakar, ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakar, Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakar ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakar. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan. ----->> Indah banget kata-katanya yahh temen2:)

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar kamu!!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya :

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)