RSS

Pengalaman Adalah Guru Yang Paling Baik

Temans, sudah hampir dua pekan saya bergabung di group #OneDayOneJuz523. Selama itu pula saya diamanahkan menjadi PJ Group. Berat, temans amanah ini. Setiap hari di jam-jam 19.00-21.00 itu selalu dalam kondisi riweuh, mengkondisikan para anggota yang lain untuk memastikan bahwa tilawahnya harus kholas sebelum jam 21.00. Disinilah kesabaran para PJ Group dan PJ harian di uji. Subhanallaah, di samping itu banyak ibroh yang bisa saya jadikan pelajaran.

Seperti saat ini, detik ini, saya sedang kepo dengan kisah salah satu anggota group, sedang japri-an di group. Hihi. Saya memanggil beliau dengan sebutan "teteh", karena beliau berasal dari Karawang. Awalnya saya hanya menjalankan amanah, japri ke beliau untuk memberikan jobdesc PJ harian (karena beliau kebagian tugas menjadi PJ Harian untuk 2 hari ke depan), memberikan semangat juga ke beliau, aahh pokoknya apapun deh di share di japri-an itu. Nah, cerita setelah ini nih yang seru. Tapi, mata saya sudah rada ngantuk. Sepertinya, saya mau lanjut dulu japri-an sama si teteh. :D

Kalaupun sempat, mungkin saya akan post tulisan saya berikutnya mengenai serba-serbi di #OneDayOneJuz523. Selamat Istirahat ya, temans. ^_^

Tuntunan agar Si Kecil Pandai Berinteraksi Sosial

Si kecil si buah hati hadir di tengah kita. Dari alam kesendirian ia datang ke dunia, untuk hidup dan berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kita pasti mengharapkan buah hati kita bisa hidup dalam tatanan masyarakat secara serasi dan seimbang, pandai berhubungan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya, jauh dari sikap individualistis dan mengasingkan diri dari pergaulan.
Agar si kecil pandai berinteraksi sosial, mari kita melihat petunjuk dan wejangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, serta contoh dan teladan para shahabat radhiyallahu ‘anhum, yang mengajarkan kepada kita cara mendidik anak dalam bergaul di masyarakat.

1. Membawa anak menghadiri majelis orang dewasa
Di antara kebiasaan para shahabat radhiyallahu ‘anhum: seorang ayah membawa anaknya ke majelis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Umar radhiyallahu ‘anhu menghadiri majelis Rasulullah bersama anaknya, Abdullah.
أَخْبِرُونِى بِشَجَرَةٍ مَثَلُهَا كمَثَلُ الْمُسْلِمِ، تُؤْتِى أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ، بِإِذْنِ رَبِّهَا، وَلا تَحُتُّ وَرَقَهَا. (قال ابن عمر) فَوَقَعَ فِى نَفْسِى أَنَّهَا النَّخْلَةُ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَتَكَلَّمَ وَثَمَّ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Ibnu umar berkata, “Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pohon apa yang perumpamaannya seperti seorang muslim; memberi manfaat kepada orang lain dan tidak gugur daun-daunnya?’” Ibnu Umar berkata, “Terbersit di hatiku bahwa pohon itu adalah pohon kurma. Tapi aku tidak senang berbicara mendahului Abu Bakar dan Umar.” (HR. Bukhari, no. 148)

Dengan membawa si kecil ke majelis orang tua, akan tampak kekurangan dan kebutuhan kita dalam mentarbiyah anak. Ini menjadi motivasi bagi orang tua untuk lebih meningkatkan usahanya dalam mencapai kesempurnaan.

Dengan hadirnya mereka di majelis, kita mendorong mereka ikut menjawab pertanyaan yang diberikan di majelis. Anak akan belajar cara berbicara setelah diizinkan dengan tenang dan penuh adab. Dengan demikian, pikirannya akan berkembang dan jiwanya pun beradab. Mereka belajar tentang pembicaraan orang dewasa sedikit demi sedikit, sampai akhirnya siap terjun ke masyarakat.

2. Menyuruhnya untuk suatu keperluan
Seorang anak yang kita beri kepercayaan untuk mengerjakan sesuatu akan merasa senang karena dihargai. Selain itu, rasa percaya dirinya akan tumbuh sejak kecil. Ia akan berkenalan dengan hal-hal yang semula tidak diketahuinya. Alhasil, pada masa mendatang ia sanggup melakukan tugas tersebut karena sudah mempunyai pengalaman sebelumnya semasa kecil.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu hari saya membantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sampai pekerjaan itu selesai. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidur sebentar, sehingga saya keluar ke tempat anak anak yang sedang bermain. Saya mendatangi mereka untuk melihat permainan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan memberi salam kepada anak-anak yang bermain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggilku dan mengutusku untuk suatu keperluan. Saya melaksanakan perintahnya.” (HR. Ahmad, no. 13022)

Contoh perintah yang bisa kita jadikan ajang latihan bagi anak adalah meletakkan makanan di meja. Hal ini agar mereka ikut berpartisipasi membantu orang tuanya dalam bekerja. Tugas-tugas yang kita berikan tidak akan pernah dilupakan si kecil dan dia akan bercerita tentangnya ketika mereka besar kelak.

Dengannya, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang amanah dan peduli dengan orang lain. Apalagi jika mereka berhasil melaksanakan tugas dengan baik, kita memujinya sebagai bentuk penghargaan kita dan kasih sayang kita kepadanya.

3. Membiasakannya mengucapkan salam
Salam adalah tahiyat, yaitu salam penghormatan di antara kaum muslimin. Anak kita senantiasa bertemu dan bergaul dengan teman-temannya dari berbagai kalangan masyarakat. Hal ini menuntut kita untuk mengajarkan kepada mereka kata pembuka yang harus mereka ucapkan .

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan cara yang lembut dalam mengajarkan sunnah salam kepada anak-anak. Caranya, kita terlebih dulu yang memberikan salam kepada mereka sampai mereka terbiasa mendengarnya. Selanjutnya, mereka yang akan memulai duluan.

Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan bahwa shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melewati anak-anak. Dia mengucapkan salam kepada mereka. Dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu.” (HR. Al-Bukhari, no. 17)

Imam Ibnu Baththal rahimahullah berkata, “Ucapan salam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak menunjukkan ketawadhuan, akhlak yang agung, dan sifat beliau yang mulia. Hal tersebut juga merupakan pembiasaan terhadap sunnah dan melatih anak-anak dengan adab yang mulia, sehingga jika mereka baligh nanti akan mereka akan beradab dengan adab Islam.” (Syarah Shahih Al-Bukhari, 9:27)

4. Memilihkan teman pergaulan yang baik baginya
Sudah menjadi fitrah manusia hidup bercampur dengan manusia yang lain dan saling membutuhkan satu sama lain. Begitu pula halnya dengan seorang anak; ia butuh teman yang dekat dengannya, teman bermain, teman belajar, atau teman untuk melewati lika-liku masa kecil bersama.

Orang tua yang cerdik akan memilih teman terbaik buat anaknya, karena hakikatnya ia telah membuka pintu tarbiyah dalam memperbaiki anaknya. Seorang teman yang shalih akan membantu anaknya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengajarkannya akhlak mulia.

Mari kita lihat kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bemain bersama teman-temannya semasa kecilnya, dan beliau melewati anak-anak yang sedang bermain sementara beliau adalah seorang rasul utusan Allah. Beliau mengucapkan salam kepada mereka, lembut kepada mereka, dan melihat mereka bermain bersama-sama, namun tidak mengusir dan tidak melarang mereka. Semua ini menunjukkan semangat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar seorang anak hidup bermasyarakat bersama anak lain serta menjauhi sikap individualistis.

5. Membawanya ke acara-acara yang tidak melanggar syariat
Di acara pesta akan berkumpul banyak orang, anak-anak akan berkumpul dan saling berkenalan. Mereka akan menyaksikan orang tua dan anak-anak bergembira bersama, mendengarkan pembicaraan mereka, dan menyaksikan acara pesta yang indah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat hadirnya anak-anak di acara pernikahan. Beliau membolehkannya serta menyambut kedatangan mereka, dan tidak mengingkarinya. Beliau mendoakan kebaikan untuk seluruh orang yang hadir, termasuk juga untuk anak-anak.

6. Bermalam di rumah kerabat yang shalih
Ketika anak keluar dari rumahnya menuju rumah sepupu atau paman atau kakeknya – yang merupakan keluarga islami – maka itu merupakan bentuk latihan bagi sang anak dalam bergaul dengan keluarga yang lain selain ibu, bapak, dan saudaranya. Mereka akan mengambil faedah dari keshalihan kerabatnya itu, berupa ilmu, ketakwaan, dan ibadah.

Hal ini akan menambah rasa cinta dengan keluarga serta membawa pengaruh yang baik jika si anak besar nanti. Anak tersebut akan mengingat masa bermalamnya bersama sang sepupu atau bersama sang kakek, dan ia diajak untuk beribadah bersama mereka.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya bermalam di rumah bibiku, Maimunah binti Al-Harits, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Al-Bukhari, no. 53)

Dalam riwayat ini, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu mengajarkan kepada para anak untuk bersemangat bemalam di rumah kerabatnya yang shalih serta mengambil faedah dari mereka. Wallahu a’lam.

Maraji’:
  • Syarah Shahih Al-Bukhari, Imam Ibnu Baththal.
  • At-Tarbiyah Nabawiyah lit Thifl, Muhammad bin Nur bin Abdul Hafizh.
sumber : muslimah.or.id

Dalam Dekapan Pembantu

Ini merupakan salah satu uneg-uneg saya sebagai pengajar. Mungkin teman-teman pengajar pernah melihat sendiri hal ini. Tulisan ini menggambarkan salah satu isi hati saya sejak lama.
"Kenapa kok usia anak-anak untuk mengaji aja harus manggil guru ngaji ke rumah?"
"Apakah orang tua mereka tak cukup mempunyai banyak waktu untuk meluangkan waktu sedikiitt saja sekadar mendidik anak-anaknya."
Aduhai...temans, para orang tua dan calon orang tua, sungguh pendidikan utama dimulai dari orang tua. Ayoo bekali diri dengan ilmu sejak dini! Semua belum terlambat, temans! Belum terlambat!
Islamedia -Tertarik untuk mengamati gejala sebagian pasangan muda di Jakarta, dengan berfikir praktis didukung kemampuan ekonomi, ketika mempunyai anak, maka langkah awal yang dilakukan adalah mencari baby sitter dan pembantu, padahal tidaklah mudah mendapatkan baby sitter, dan dibutuhkan merogoh kantong sampai jutaan rupiah untuk mendapatkan baby sitter.

Masalahnya, bukan berapa uang yang dikeluarkan oleh pasangan muda untuk mendapatkan baby sitter tersebut, namun adakah dampak psikologis terhadap anak-anak pasangan muda, jika sehari-hari anak-anak lebih banyak bersama sang pembantu?
 
Topik ini bisa debatable, karena tentunya pasangan muda mempunyai alasan dalam memutuskan me-rekrut baby sitter dan pembantu ke wilayah domestik mereka. Salah satu alasannya adalah karena suami istri bekerja, lingkungan eksternal yang semakin menantang seperti macet, membentuk pola berangkat pagi-pagi dan pulang sudah malam.
 
Sementara keluarga bisa jadi diluar kota, maka tidak banyak pilihan, selain merekrut baby sitter dan pembantu. Alasan lain, memberikan waktu yang cukup kepada pasangan untuk aktualisasi diri, tidak perlu direpotkan urusan domestik berupa mengasuh anak, memasak, mencuci, membersihkan rumah.
 
Bisa juga, berupa mulai abainya peran, terhadap kasih sayang, dan rasa terhadap anak. Pemenuhan kebutuhan terhadap anak-anak tereduksi dengan memberikan fasilitas yang cukup bahkan melebihi kebutuhan, seperti mainan, liburan, fasilitas antar jemput, bahkan driver sendiri untuk anak-anak.
 
Apakah ini baik terhadap tumbuh kembang anak, jangka pendek ataupun jangka panjang?
Apakah tidak ada kekhawatiran, sebagian besar hari, anak-anak bersama baby sitter dan pembantu?
Bukankah memandikan anak, mencebok anak, mengendong anak, mencuci pakaiannya, membacakan cerita, mendengarkan celotehan dan keluh kesahnya juga bagian dari pembentukan karakter anak?
 
Tidakkah miris, melihat anak-anaknya lebih sering digendong dan didekap oleh baby sitter dan pembantu dibanding orang tuanya?
 
Apakah tidak khawatir, kitalah orang tua biologis anak-anak tersebut, tapi baby sitter dan pembantulah orang tua psikologis anak-anak kita?
 
Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang bisa dibangun.
 
Ada baiknya, kita merenung dan bertanya kepada diri, apa yang kita rasakan jika anak-anak tersebut adalah diri kita?, apa yang kita rasakan jika dulu kita tidak pernah diantar oleh orang tua ke sekolah, karena sudah digantikan pak sopir, kita tidak pernah dijemput oleh orang tua kita ke sekolah, ke tempat les, ke tempat olah raga, karena peran itu telah digantikan oleh sopir.
 
Kita tidak pernah diajarkan sholat, diajak sholat ke masjid dan mengaji oleh orang tua kita, peran inipun saat ini , sudah digantikan oleh guru mengaji atau sekolahnya.

Saat yang sama, terbangun fungsi orang tua adalah mencari penghasilan sebanyak-banyaknya , agar bisa memberikan fasilitas terbaik , mulai dari sekolah terbaik dan mahal, mainan, liburan, mobil dan sopir pribadi.
Lingkungan, memang terus berubah, nilai bisa jadi bergeser, namun kebenaran tidak akan pernah hilang, bertanyalah ke hati yang tidak pernah berbohong, cara seperti itukah yang terbaik untuk keluarga kita. Semoga tidak lahir generasi dekapan pembantu.

Jakarta, 29 Oktober 2013
Sumber : Islamedia

Sudahkan Allah Ridha atas Setiap Pekerjaan yang Kita Lakukan?

Menikmati Kerja-


Jika bekerja hanya untuk mendapatkan uang, maka tingginya jenjang pendidikan justru menyulitkan ridha terhadap takdir atas rezeki. Jika bekerja hanya untuk mengejar uang, maka akan sulit berserius memeras keringat mencari ridha Allah Ta'ala melalui kesungguhan bekerja.

"Gaji dokter tidak ada separonya pendapatan pengemis yang 25 juta," protes seseorang. Tetapi ia lupa bahwa pengemis tidak digaji. Ia mendapatkan itu karena buka praktek. Dokter pun kalau buka praktek dapat memperoleh penghasilan di luar gaji dan boleh jadi melebihi penghasilan pengemis. Itu pun kita perlu bertanya, apakah setiap pengemis memperoleh penghasilan sebanyak itu? Apakah itu penghasilan per bulan?

Saya tentu saja sangat tidak setuju dengan profesi pengemis. Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk mengingat kembali, apakah yang sungguh-sungguh kita cari dari bekerja? Jika hanya untuk mencari uang semata, mengapa harus kuliah hingga S-3? Jika hanya uang urusan kita, tenaga terkuras, waktu tersita, pahala tiada, tidak pula dapat menikmati kerja.