RSS

Cave Adventure Expedition #GunungGede 3-5 Mei 2013 #Pendakian #1

Sabtu, 04 Mei 2013

Bersiap mendaki Gunung Gede, 2.958 MDPL!!
Pagi itu, saya terbangun dari tidur. Sekejap melihat jam di tangan, "Ah sudah pukul 04.00 lebih", batin saya. Sambil mengusap-usap mata menggenapkan nyawa yang masih melayang entah kemana dan melihat sekeliling ikhwan akhwat yag masih terlelap dalam tidur. 

"Eh gak jadi qiyamullail nih?", celetuk saya ke salah satu teman akhwat.  Namun, tidak ada jawaban. Mungkin yang lain juga tengah mengumpulkan sebagian nyawanya, antara setegah sadar :D

Saat itu, bunyi alarm HP tampak berisik bersaut-sautan. Yang satu berhenti berbunyi, yang lain berbunyi lagi dengan irama yang kadang sontak membuat saya kaget, tapi tapi tapi ikhwan-ikhwan yang punya HP malah tidak terbangun padahal alarm nya selalu berbunyi. Ya ampunnnn!! demi tu haaannnnn!!! ini petaka!!
Akhirnya, pada pukul 05.00, semua formasi lengkap sudah terbangun dari lelapnya tidur. Adzan shubuh berkumandang. Satu persatu kami mulai menuju kamar maandi untuk membasuh tiap sendi tubuh kami, berwudhu. Terasa segar pagi itu. Waktunya menunaikan kewajiban, berjama'ah dalam lurusnya barisan.






Selesai menunaikan kewajiban, kami mulai packing ulang barang-barang bawaan kami. Ada pula yang membeli sepiring nasi untuk di makan sebagai pengisi perut di pagi hari. Waktu itu, saya malas sekali untuk sarapan. Tidak terbiasa sarapan tepatnya. Tapi tak lama kemudian ada tawaran menarik dari Nurfa, makan sepiring berdua. :D Hati saya luluh juga. Saya dan nurfa menuju warung, di sana saya menemui ibu penjual sedang sibuk memasak telur dadar. Ehm, nikmatnnya harum masakan beliau membuat perut makin melapar. :D Padahal awalnya gak lapar-lapar juga sih. hehe (alibi).

Nurfa mulai mengambil piring dan nasi di dalam rice cooker itu.

"kak, mau pake lauk apa?" (sambil melihat lauk yang disajikan diatas lemari kaca)

"aku telur dadar aja. Ibu, aku mau telur dadarnya ya bu"

"eh aku juga mau telur dadar kak"

"jadi 2 ya bu telurnya"

Beberapa menit kemudian, setelah menunggu, akhirnya telur dadar kami jadi juga. Wahhh, hangat dan aromanya lazies! Kami mulai mengambil dua sendok, dan menuju ke teman-teman yang lain untuk makan bersama-sama dalam satu lingkaran. Romantisnya saat itu berdua dengan Nurfa! :D Ini dia dokumentasi waktu sarapan bareng teman-teman.



Selesai sarapan, kami mulai membereskan perlengkapan yang masih tercecer tak beraturan di lantai. Ada juga teman-teman yang keluar menikmati hangatnya sinar matahari, atau bahkan ada yang memulai pemanasan agar saat pendakian otot-otot tidak terasa keram. Di sela-sela sarapan dan menyiapkan perbekalan, di sudut jalan yang lain banyak pendaki yang tengah bersiap untuk mendaki bersama teman-teman kelompoknya. Dahsyat!!



Ini dia nih tempat penginapan kami sementara, rumah abah dan ibu. Nyamannya selama istirahat di sana.



Semua telah selesai, packing dan sarapan. Waktunya bersiap mendaki. Masing-masing mulai menyiapkan amunisi pendakian dan siap membawa beban day pack dan carrier yang cukup berat. Sebelum pendakian di mulai, kami diinstruksikan berkumpul di halaman depan rumah abah, briefing dan berdo'a. Saat itu briefing di pimpin oleh ka Amin dan ka Imam, dan di akhiri dengan do'a oleh ka Alfa dan ka Aji.




Bismillah. Pendakian dimulai. Berawal dari menyusuri tepi-tepi sawah, terkadang bertegur sapa dengan para pendaki lain, dan melihat titik matahari pada sudut daun di tengah hamparan sawah yang luas. Ahh, baru beberapa meter menanjak sudah ngos-ngosan, haha. Ini baru ingin menuju pos pertama, pos pendaftaran. Setelah beberapa puluh meter mendaki, tetiba beban di pundak terasa semakin berat, saat itu juga kami memutuskan untuk beristirahat sejenak. Duduk di emperan tanah yang ditanami rumput hijau dan mulai meneguk air di botol minuman yang kami miliki. Ah, seteguk dua teguk rasanya sangat nikmat ketika membahasi kerongkongan.

Beberapa menit kemudian, ka Imam berbicara dengan nada sedikit berteriak, "Ayolah lanjut lagi, baru 10 meter nih. Masa udah capek duluan. Ayo jalan lagi."

Huaaa...siap-siap membawa beban berat lagi di pundak. Horeee belajar menjadi wanita kekar! :D



Sekitar 30 menit kami menyusuri jalan menuju pos pendaftaran, akhirnya tiba juga di sana.





Semua perlengkapan surat-surat dikeluarkan. Petugas segera mengecek kelengkapannya. Ternyata ada sedikit masalah di sana! Orang yang tertulis di daftar nama hanya 13 orang, padahal kami ada 14 orang dan ada beberapa orang yang tidak memakai sepatu. Wahhh..gak beres nih! Oke, semua di absen dan ternyata nama yang tidak terdaftar adalah nama Alin. Beuhhhh, ketauan nih kesalahan fatal. Untuk kesalahan yang tidak memakai sepatu, clear dengan membuat surat pernyataan di atas materai. Dan yang belum terdaftar, tidak diperbolehkan naik ke atas  karena kuota pendaki saat itu sudah sangat penuh. Ini juga harus diperhatikan untuk para pendaki gunung gede - pangrango, sebaiknya para calon pendaki daftar online terlebih dahulu minimal H-10 sudah mendaftarkan dirinya secara online, agar tidak terjadi kesalahan fatal seperti rombongan kami.
Di sana juga kami bertemu dengan beberapa orang pendaki yang memiliki masalah yang sama dengan kami, yaitu ada beberapa orang yang tidak memakai sepatu, alhasil mereka harus membuat surat pernyataan di atas materai. Karena mereka tidak memiliki materai, akhirnya mereka harus turun lagi membeli materai di warung yang ada di kaki gunung. Lain hal nya dengan kami, kami sudah merencanakan untuk membuat surat pernyataan perihal beberapa teman kami yang tidak menggunakan sepatu, maka dari di depan pasar cipanas kami menyempatkan membeli materai agar kami bisa lolos dari perizinan tersebut. What a beautiful moment! But, dont try this at home yaa ^^ 

"Wah kalau nggak terdaftar, yang namanya nggak terdaftar gak boleh naik, mohon maaf. Yang sudah terdaftar silahkan naik", petugas menegaskan.

Ka Amin langsung angkat bicara, "Yaudah yuk kita jalan aja duluan, biarin Bang Imam sama Alin di bawah". (sambil berjalan menuju ke atas)

Tiba-tiba pendaki lain mengomentari, "eh jangan gitu, kalo temen lo gak bisa naik ke atas, ya lo gak naik semua, yang kompak dong."

Dan ka Amin pun membisikkan beberapa kalimat di depan akhwat-akhwat sembari ikhwan-ikhwan lain nego ke petugas,
"Udah sekarang kita ke atas aja gitu kan, nanti biar bang Imam sama Alin lewat belakang aja."

What the hell is that??!! ckckck Pemirsah, ini tidak boleh ditiru ya. 
Tetapi, kami tidak menggunakan cara itu kok, tenang saja. :) Setelah lama nego, akhirnya kami diizinkan dengan syarat membuat surat pernyataan lagi di atas kertas putih itu dan harus menggunakan materai. O-ow persediaan materai sudah habis. Sesaat setelah berdiskusi, ka Amin berinisiatif untuk membeli materai. Itu artinya harus turun gunung lagi. Belum mulai mendaki, sudah dihadapkan pada beberapa masalah. Subhanallah.

Tak lama kemudian, ka Amin menampakkan batang hidungnya sebagai tanda bahwa materai sudah ditangannya. Alhamdulillaah semua beres.

"Ok tanda tangan di sini ya", kata petugasnya sambil menunjuk ke salah satu sudut kertas.

"Makasih nih ya bang," terdengar salah satu ikhwan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada petugas.

"Kalo cewek apa deh namanya? akhwat ya? kalo cowok ikhwan ya? Gua tahu tuh, gini-gini kan dulu gua anak pesantren, cuma ya gitu, haha"

"Iya bang kalo cewek, akhwat. Wah keren juga tuh bang anak pesantren. Pesantren mana bang?"

"Ada dah pokoknya mah, hehe"

"Yaudah deh bang, kita naik dulu ya bang. Makasih nih bang sebelumnya."

"Ok sip-sip. Besok-besok jangan kayak gitu lagi ya. Daftar online aja dulu, ya walaupun malah kurang efektif sih kalo harus daftar online. Soalnya kan nanti harus transfer uang pendaftaran terus harus lapor bukti pembayarannya lagi ke sini. Jadi menurut gua sih sistem online malah kurang efektif."

"iya ya bang, oke deh bang kita berangkat dulu ya bang. makasih bang."

Huaaa setelah perjuangan panjang, akhirnya akhirnya akhirnya, kami benar-benar mendaki meeennnn!

Naik-naik ke puncak gunung...
Tinggi-tinggi sekali..
Kiri kanan kulihat saja..
Banyak pohon cemara...

:D :D :D


Saat pendakian awal, disitulah perjuangan benar-benar baru di mulai. Bermodalkan 1 botol minuman. Menguras energi. Berat carrier dipundak menjadi hal yang luar biasa pada saat itu bagi pemula seperti saya. Berjalan menyusuri tiap celah pohon. Ada yang memutar lagu di HP nya, ada yang bercanda, memberikan semangat, ah semua lengkap. Di tengah jalan pun sering bertemu dengan pendaki lain dan tidak lupa kami untuk saling bertegur sapa, "Punten teh", atau "Permisi bang", atau "Permisi teh", bahkan, "Ayo semangat!"

Baru beberapa menit perjalanan, teman-teman yang lain memutuskan untuk beristirahat di pinggir-pinggir jalan setapak.



Di awal pendakian, Andra mulai berulah.
"Ayo ka Nurul semangat, lihat tuh udah megap megap kayak ikan"

ggrrrr!! Anak itu memang rese nya pool!!

Setelah beberapa jam kemudian, sampailah di pos pertama. Entah berapa mdpl yang sudah kami lalui. Sejauh pengetahuan saya yang saya dapatkan dari penjelasa Andra, di sana kami akan melewati enam pos (kalau tidak salah). Maklum, dia anak gunung dan pernah menyusuri gunung Gede, jadi harap maklum jika dia lebih tau daripada kami sebagai orang awam. Ini dia dokumentasi pada saat sampai di pos pertama pendakian Gunung Gede. Wajahnya masih semangat dong!

Lelahnya kala itu, tetapi semangat kami tidak akan pernah padam untuk menuju Alun-Alun Surya Kencana.
Beginilah potret perjalanan kami.








Hmmm. Di jalan, banyak yang tertinggal. Awalnya, pendakian itu didahului oleh Andra dan ka Imam. Setelah jauhnya perjalanan dan lelahnya tenaga akhirnya satu persatu mulai tertinggal dari rombongan. Rombongan pertama yaitu ka Imam dan Sekar, ternyata sekar mengalami cidera di kaki, seingat saya karena tersandung akar pohon ketika menanjak. Mereka telah melesat jauh di depan. Pada saat itu saya mengumpulkan kekuatan untuk terus naik ke puncak. Begitu beratnya perjuangan kala itu. Hmm. Di tengah perjalanan, saya berpapasan dengan Andra dan dia segera menawarkan saya agar tas carrier saya dibawakan olehnya, dengan jaminan susu ult*a milk saya hilang satu sebagai upahnya dia, waktu packing dia sempat melihat isi carrier saya kalau saya membawa 2 susu kotak ult*a milk. Oleh karena itu, dia menawarkan bantuan dengan upah satu susu ult*a milk saya. Haha. Tetep yaa itu anak. Dengan sekuat tenaga saya tepis tawaran dia. Tapi tapi tapi pada saat-saat kritis, pada saat nafas sudah mulai tidak teratur, dia tetap menawarkan bantuan akhirnya hati saya luluh juga. Haha. 1 susu kotak saya hilang, haha. Pas beberapa mdpl perjalanan, rasanya ringan sekali tidak membawa beban carrier saya. :D Seketika saya melihat rombongan saya istirahat di sudut-sudut pohon rindang. Carrier saya waktu itu sudah berpindah tangan ke ka Imam.

"Kak sini deh ana bawa carrier ana aja, ana bisa kok bawa sendiri."

Akhirnya carrier saya berpindah tangan ke saya lagi. Ehm. Ngos-ngosan bawa carrier rasanya. :D Tapi harus dijalani. Semangat! Hap hap hap, langkah kaki terasa semakin lama. Lelah sekali waktu itu yang kami rasa. Rombongan lain sudah jauh berjalan di depan. Tidak terlihat dari jarak pandang kami, ka Amin, ka Alfa, Saya, dan Alin. Alin berjalan mendahului saya, namun saya masih di kawal oleh ka Alfa dan ka Amin di belakang saya. Mereka sangat sabar menunggu saya yang berjalan layaknya siput. Hehehe. Berjalan berjam-jam melewati tiap pohon tinggi. Huft hopeless waktu itu. Yang ada di pikiran hanya, "kapan nih sampe puncak?" Waktu juga sudah semakin siang. Rasanya sudah tidak ada tenaga lagi. Ah, di tengah jalan ternyata saya bertemu dengan Alin, dia sedang sendiri memesan teh hangat yang dijual oleh bapak penjual minuman keliling. Anehnya, di tempat seperti itu masih saja ada penjual yang berjualan di sana, subhanallah. Akhirnya, karena saya melihat nikmatnya Alin meneguk segelas teh, saya ikut-ikutan membeli segelas teh hangat.

"Yah neng airnya belum matang, tungguin dulu ya."

"Iya pak."

Bapak itu masih sibuk dengan pesanan pendaki lain, ada yang memesan p*p mie, ada yang memesan kopi, dan yang lainnya.

"Pak, kalo bapak naik ke puncak biasanya berapa lama pak?"

"Ya paling 3 jam."

"Hah? 3 jam, Pak? Beneran? Subhanallah cepet banget! Terus kalo dagangannya abis, gimana pak?"

"Ya kalo dagangan abis ya turun lagi neng ngambil persediaan, trus naik lagi jualan kalo belum malem."

Ihhhh subhanallah, bayangkan!! 3 jam mennnn!! Teman-teman jangan khawatir selama di Surya Kencana. Jika teman-teman tidak membawa logistik, di sana nanti akan ada penjual yang menjual nasi uduk dalam keadaan masih hangat terbungkus. Mantap kan?! :D
 Oke back to topic. Beberapa menit kemudian, air mulai mendidik dalam perapian kompor sederhana bapak penjual itu. Bapak itu langsung mengambil satu kantong teh dan segera menyeduh dengan apik di dalam gelas plastik yang sudah disediakan.

"Nih neng teh nya."

"Makasih ya, Pak."

Wahh rasanya nikmat sekali bisa merasakan hangatnya teh di dalam kondisi udara yang dingin seperti itu. Kami berdua, saya dan Alin menikmati teh hangat dan gorengan yang sudah mendingin. Yang lainnya, ka Amin dan ka Alfa hanya bisa memandangi kami makan dan minum saja. :D

Saat itu udara makin dingin, benar-benar dingin. Otot terasa mulai kaku akibat terlalu lama istirahat. Tidak lama kemudian, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, tetapi saat itu karena saya sudah tidak kuat lagi menahan beban carrier, dan ka Amin dengan sadar melihat saya susah payah membawa carrier, beliau menawarkan bantuan untuk bisa membawa carrier saya. Subhanallah, walhamdulillaah. Saya memberikan carrier saya. Susah payah kami melewati track yang terjal. Terkadang kami terpeleset bahkan tak jarang terjatuh tersandung akar-akar pohon rindang itu. Entah berapa kali kami istirahat merebahkan otot-otot kami di samping-samping jalur track menuju alun-alun surya kencana, dan tak jarang pula kami berpapasan dengan para pendaki lain. Di tengah pendakian, saat kami istirahat dengan beberapa pendaki, kami sempat berbincang mengenai pendakian kami masing-masing. Ternyata ada yang mulai melakukan pendakian dari pukul 03.00 pagi lho! karena ada salah seorang temannya tersebut cidera, akhirnya perjalanan dihentikan sementara, walhasil mereka akan lebih lama mencapai puncak!

Jam tangan mulai menunjukkan 14.00. Gemuruh petir mulai terdengar, udara saat itu mulai dingin, langit semakin gelap. Situasi ini membuat saya hopeless di tengah jalan. Tetapi di sudut lain, saya menjadi semangat untuk terus mencapai puncak sebelum maghrib tiba. "Bisa gak ya sampe atas sebelum maghrib?", pertanyaan itu yang selalu muncul di hati saya. Bayangkan saja, saya dan ketiga teman yang lainnya adalah rombongan paling akhir yang tertinggal.

Saya melihat ketinggian pohon itu, muncul secercah harapan bahwa sedikit lagi jalan ini akan bermuara ke puncak Surya Kencana. Jalan mulai landai, sinar mulai memasuki tiap sudut yang kami jalani. Ah, benar ternyata, kami segera mencapai puncak Surya Kencana. Eits! Ini baru puncak Surya Kencana lho. Alhasil, sekitar 30 menit kami menyusuri jalan landai itu, sampailah kami di hamparan luas Alun-alun Surya Kencana!

"Aaa subhanallah, indahnya. Ini toh yang namanya Surya Kencana", dalam hati saya bergumam sambil mengucap rasa syukur karena saya telah selamat mencapai ke alun-alun Surya Kencana. Alhamdulillah.