RSS

Labbaik...Yuk Sambut Panggilan Selagi Luang

Rumah petak itu kecil, kurang lebih ukuran tiga kali enam persegi. Terletak di dekat kantor, dihuni oleh pasangan muda yang belum memiliki putra, Mas Heru dan Mbak Ida. Rumah petak yang sangat sederhana, dan pada waktu musim hujan sering terkena banjir.
Tapi hari itu, rumah mbak Ida cukup sesak dipenuhi tamu para ibu muda. Ada apakah gerangan? Rupanya mbak Ida mengadakan pengajian sederhana, walimatus safar, terkait dengan rencana keberangkatannya untuk berhaji ke tanah suci dengan suaminya. Aku termasuk salah satu diantara tamu yang hadir. Sebagai sahabat juga adik angkatan, aku memutuskan untuk pulang belakangan. Hingga akhirnya tinggallah mbak Ida dan aku saja.
Sambil membereskan ruangan usai pengajian, kutanya mbak Ida, “Mbak, nabungnya mulai kapan sih? Kok bisa berangkat tahun ini sama Mas Heru? Ngajak ibu di kampung pula”.
“Sejak awal nikah Ning. Memang harus diniatkan begitu, dicicil sedikit-sedikit dan berazzam semoga bisa berhaji saat umur belum terlalu tua. Kenapa Ning?”
“He. Enggak. Aku kagum aja. Habis mbak kan masih tinggal di rumah petak begini, ngontrak pula. Sering kebanjiran juga. Gak punya motor, apalagi mobil. Eh tahu-tahu aku denger kabar mau berangkat haji, kan kaget,” jawabku terus terang.
Dia tersenyum, lalu menjelaskan, “Ya gimana ya? Ini sudah cita-citaku dan mas Heru sejak awal. Meski kami belum punya rumah, pokoknya diusahakan rukun Islam kelima itu sah dulu. Mumpung kami masih kuat, masih ada umur. Memang sih, tetangga-tetangga sini juga pada heran kok Ning, tapi akhirnya mereka maklum”.
Subhanallah, aku terharu mendengarnya. Seolah ini membalikkan paradigma awalku bahwa pemenuhan kebutuhan primer itu (pangan,sandang, papan), untuk papan ya harus memiliki rumah, baru dikategorikan mampu berhaji. Ah, ternyata tidak harus begitu ya? Menyediakan rumah petak untuk kontrakan pun, sudah termasuk pemenuhan kebutuhan papan. Duh, salah dong pola pikirku selama ini.
“Terus, cara nabungnya gimana mbak? Seadanya duit gitu?” tanyaku lebih lanjut, makin tertarik untuk meniru. Siapa tahu ...
“Wah, ya jangan seadanya duit Ning, entar gak pernah diisi lagi tabungannya. Harus direncanakan, kayak orang kredit barang itu lho, pakai tabungan berjangka. Biar ketahuan juga kan, kalau nabungnya misal tiga ratus ribu sebulan, berarti sekian tahun lagi insya Allah cukup untuk biaya haji,” urai mbak Ida.
“Terus, target tabungan bulanan itu berhasil ditepati terus, mbak?” kejarku, makin penasaran.
“Iya, Alhamdulillah. Memang sih ada yang harus dikorbankan. Menyederhanakan menu makanan sehari-hari, misalnya. Ibaratnya, gakpapa lah tiap hari kami makan tempe asal bisa segera berhaji. Kan gak ada sejarahnya juga orang yang mati gara-gara kebanyakan makan tempe. He,” kata mbak Ida bercanda.
Haha jadi ingat suamiku yang juga sangat hobi makan tempe :D
“Terus apa lagi mbak?”
“Intinya, mesti agak ‘merem’ dengan kebutuhan yang lain, kecuali sangat perlu. Baju-baju, jilbab, gak usahlah koleksi banyak-banyak. Pergi-pergi jauh juga dipilih benar. Motor? Lah kantor suami kita kan dekat, ibaratnya kepleset juga nyampek. Belum perlu beli lah,” urainya lagi.
Duh duh, hebat benar ya mereka. Aku sungguh salut! Tentu sangat berbahagia jika bisa berhaji selagi muda dan kuat. Melaksanakan kewajiban kita yang kelima sebagai umat Islam, ibadah haji yang memang membutuhkan stamina fisik prima. Kebayang kalau baru bisa berhaji saat sudah renta, ruang gerak selama di sana tentu terbatas. Ibadah pun jadi kurang optimal.
Obrolan dengan mbak Ida itu sangat mengusik perhatianku. Sampai di rumah (kontrakanku), aku langsung membuka diskusi dengan suami. Kebetulan waktu itu kami baru menikah. Rasanya sungguh ingin meniru cara mbak Ida dan Mas Heru. Bla bla bla, dengan penuh semangat aku bercerita di depan suamiku.
Suamiku juga terkesima mendengar ceritaku, dan dia setuju untuk mulai merencanakan dengan matang kapan harus berhaji. Biarlah rumah masih ngontrak, motor juga motor dinas dari kantor. Yang penting beres dulu urusan kewajiban yang satu ini. Kalau nanti saatnya uang cukup terkumpul untuk berangkat haji dan anak-anak masih kecil, ya gakpapa. Memang harus memilih, harus tega ninggalin mereka barang 40 hari. Toh ada orang-orang terpercaya yang bisa dititipi.
Menunggu anak-anak agak besar? Memang secara perhatian fisik dan mental tidak terlalu merepotkan lagi, tapi secara finansial bakal banyak terserap untuk dana pendidikan mereka. Bisa-bisa malah mundur lagi rencana berhaji.
Atau menunggu anak-anak semuanya sudah mandiri dan berpenghidupan? Waduh, keburu kami orang tuanya yang sudah tua renta, makin payah untuk beribadah haji yang jelas-jelas membutuhkan ketahahan fisik tinggi.
Okay, Bismillah aja, buka tabungan haji :)
Alhamdulillah, faidza ‘azamta fatawakkal ’alaL-Lah. Jika niat sudah tertancap kuat, insya Allah akan dimudahkan. Lima tahun sejak pencanangan niat itu, dana haji yang kami tabung cukup untuk berangkat. Tadinya dana haji tersebut hanya cukup untuk dua orang. Waktu itu, aku dan suami agak bingung, siapa yang seharusnya berangkat haji duluan? Habis gimana? Dananya cuma cukup untuk berdua. Sementara ibuku dan ibu mertua belum berhaji (kalau bapakku dan bapak mertua sudah, Alhamdulillah). Sehingga suami juga kepikiran untuk mengajak ibu kandungnya.
Aku dan suami sempat menanyakan ke ustadz yang paham soal fiqh, siapa seharusnya yang berangkat lebih dulu, suami dan aku, atau mertua/orang tua yang belum berhaji. Karena setahu kami, untuk ibadah, apalagi yang fardhu ’ain, tidak ada itsar. Jawabannya ternyata karena melihat faktor fisik, diutamakan orang tua dulu, dengan asumsi untuk yang muda bisa mencari sumber dana lagi. Okay, berarti suamiku dan ibu mertua yang bisa berangkat lebih dulu.
Tapi namanya rizki dari Allah, ada saja datangnya tanpa diduga. Tiba-tiba ada rejeki nomplok, hasil pesanan program IT yang dihargai cukup tinggi, sehingga bisa membiayai haji satu orang lagi. Jadi ada dana untuk haji bertiga. Alhamdulillah, ibu kandungku pun bisa diajak serta berhaji, bersama suami dan ibu mertua. Akhirnya, berangkatlah suami beserta ibunya dan ibuku, sengaja mendaftar dari kampung halaman untuk memudahkan mengawal para ibu kami.
Aku sendiri baru bisa berangkat berhaji dua tahun setelahnya. Sebenarnya, selang dua bulan dari fiksasi kuota mereka bertiga, ada dana haji untuk satu orang lagi, yang bisa kugunakan untuk mendaftar haji. Benar-benar rizqum minal-Lah yang sungguh tak pernah kami sangka sebelumnya! Tapi ternyata aku masuk waiting list, tidak bisa berangkat di tahun yang sama dengan suami dan ibu. Ya sudah, tak mengapa, yang penting kewajiban haji tunai sudah.
Waktu suami akan berangkat haji itu, kami memang sudah menempati rumah milik sendiri. Hanya rumah sederhana di pinggir gang sempit yang tidak dapat dimasuki mobil. Tapi Alhamdulillah, hitungannya sudah ada rumah permanen untuk tempat berteduh, gak pindah-pindah melulu sebagai kontraktor.
Lucunya, beberapa tetangga sekitar rumahku yang tahu suamiku akan pergi berhaji bertanya kepadaku, ”Pak Zuba dibiayai kantor ya Mbak, hajinya?”
Ada juga yang bertanya, ”Oh dapet sponsor dari perusahaan ya? Namanya juga kerja di b****k**?”
Halah halah, aneh-aneh juga nih pertanyaan. Mungkin para tetangga bingung kali ya, karena standar ’mampu berhaji’ secara umum ya biasanya punya rumah mewah magrong-magrong, terus anaknya sudah pada mentas semua. Lah ini, rumah cuma nyempil di gang sempit, kursi tamu aja gak punya, anak-anak baru dua batita semua, dapet duit darimana untuk pergi berhaji?
Untung mereka tahunya cuma suamiku yang berangkat. Kalau tahu suami juga memberangkatkan ibu-ibu kami, apa komentarnya ya kira-kira? Haduh, semoga jangan dikira korupsi saja :(
Alhamdulilah, ini namanya niat dan doa yg diijabah oleh Allah.
Jadi ingat fenomena di kampung, sepuluh hingga dua puluh tahun lalu. Banyak orang kampung yang berduyun-duyun pergi berhaji ke tanah suci, dengan menjual sawah atau ladangnya. Bagaimana dengan rumah mereka? Biasa saja. Malah beberapa ada yang masih berdinding bambu. Tapi, kesadaran mereka untuk mengorbankan sebagian hartanya dalam rangka pemenuhan kewajiban haji sangat tinggi. Rela menjual, kadang sebagian besar sawahnya untuk itu. Alasannya sangat logis, umur makin beranjak tua, sementara rizki bisa dicari lagi nanti.
Tapi fenomena sekarang, kok agak lain ya? Orang bisa kredit mobil ratusan juta, atau beli barang mewah lain yang harganya puluhan juta sekali jreng. Tapi kok belum berangkat haji ya? Padahal untuk ONH kan gak sampai 40 juta, dan bisa dikredit/dicicil juga kok sebenarnya. Sementara kalau belum berhaji, kata seorang teman nih, ibaratnya diri ini masih tergadai. Menebus barang harga puluhan juta bisa, maka menebus diri sendiri yang juga puluhan juta itu juga (seharusnya) lebih bisa.
Jadi, tunggu apa lagi? Mari segera sambut pangilan Allah di tanah suci, senyampang kepayahan fisik belum menghampiri diri :)